Teruslah Bermimpi dan Belajar Mewujudkan Setiap Mimpi
Powered by Blogger.

Kurikulum Pembelajaran

1.     Jelaskan pengertian kurikulum !
Jawaban :
Rencana pembelajaran yang disusun secara logis dan sistematis mengenai isi dan bahan pengajaran, serta cara yang digunakan dalam menyelenggarakan belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru dan siswa dikelas atau diluar kelas.
2.     Jelaskan kegunaan kurikulum !
Jawaban :
Sebagai alat membantu peserta didik, untuk mengembangkan pribadinya ke arah tujuan pendidikan. Kurikulum itu segala aspek yang mempengaruhi peserta didik di sekolah, termasuk guru dan sarana serta prasarana lainnya. Kurikulum sebagai program belajar bagi siswa, yang disusun secara sistematis dan logis, diberikan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan.
3.     Mengapa mahasiswa FKIP dibelajarkan mata kuliah kurikulum? Jelaskan alasannya !
Jawaban : 
Agar bisa mencetak seorang pendidik atau guru yang profesional, dimana guru tersebut adalah perangkat pembelajaran yang akan mentransfer ilmunya kepada peserta didik sesuai dengan kurikulum.
4.     Jelaskan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum dibawah ini :
1)   Prinsip berorientasi pada tujuan;
2)   Prinsip relevansi pada siswa dan relevansi pada masyarakat;
3)   Prinsip continuitas;
4)   Prinsip fleksibilitas;
5)   Prinsip efisiensi;
6)   Prinsip efektivitas.
Jawaban :
1)   Prinsip berorientasi pada tujuan;
Guru harus menentukan tujuan pengajaran sebelum menentukan bahan. Hal ini berarti bahwa guru dapat menentukan dengan tepat metode mengajar, alat pengajaran dan evaluasi yang digunakan dalam proses belajar-mengajar.
2)   Prinsip relevansi pada siswa dan relevansi pada masyarakat;
Secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebut memiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
3)   Prinsip continuitas;
Adanya kesinambungan dalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
4)   Prinsip fleksibilitas;
Bahwa kurikulum itu harus lentur dan tidak kaku, terutama dalam hal pelaksanaannya, dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar apa yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar belakang peserta didik.
5)   Prinsip efisiensi;
Kurikulum harus praktis, mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya murah. Dalam hal ini, kurikulum dan pendidikan selalu dilaksanakan dalam keterbatasan-keterbatasan, baik keterbatasan waktu, biaya, alat, maupun personalia.
6)   Prinsip efektivitas;
Prinsip efektivitas merujuk pada pengertian kurikulum itu selalu berorientasi pada tujuan tertentu yang ingin dicapai. Kurikulum biasa dikatakan sebagai instrument untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, jenis dan karakteristik tujuan apa yang ingin dicapai harus jelas. Kejelasan tujuan akan mengarahkan pada pemilihan dan penentuan isi, metode dan system evaluasi serta model kurikulum apa yang akan digunakan juga akan mempermudah dan mengarahkan dalam implementasi. Prinsip efektifitas mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.
5.     Jelaskan maksud-maksud landasan pengembangan kurikulum dibawah ini:
1)   Landasan Filosofis;
2)   Landasan Yuridis;
3)   Landasan Teoritis;
4)   Landasan Empiris;
5)   Landasan Agamis;
6)   Landasan Sosial Budaya.
Jawaban :
1)   Landasan Filosofis
Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran-aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan.
2)   Landasan Yuridis
Secara yuridis, respon pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat dan bangsa dalam membangun generasi muda bangsanya. Secara pedagogis, kurikulum adalah rancangan pendidikan yang memberi kesempatan untuk peserta didik mengembangkan potensi dirinya dalam suatu suasana belajar yang menyenangkan dan sesuai dengan kemampuan dirinya untuk memiliki kualitas yang diinginkan masyarakat dan bangsanya.
3)   Landasan Teoritis
Pendidikan berdasarkan standar menetapkan adanya standar nasional sebagai kualitas minimal warga negara yang dirinci menjadi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan untuk bersikap, berpengetahuan, berketerampilan, dan bertindak.
4)   Landasan Empiris
Kurikulum harus mampu membentuk manusia Indonesia yang mampu menyeimbangkan kebutuhan individu dan masyarakat untuk memajukan jati diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan kebutuhan untuk berintegrasi sebagai satu entitas bangsa Indonesia.
5)   Landasan Agamis
Agama erat kaitannya dengan keadaan masyarakat yang mempercayainya. Karena kepercayaan masyarakat tersebut, masyarakat memasukkan nilai-nilai agama didalam segala kehidupan dunia mereka, tanpa terkecuali dalam mengembangkan kurikulum. Kurikulum akan semakin populer bila landasan dari segi agamanya sama dengan mayoritas pemeluk agama di daerah dimana sekolah tersebut berada. Oleh karena itu banyak lembaga pendidikan yang menjadikan agama sebagai pusat dari pengembangan kurikulumnya.
6)   Landasan Sosial Budaya
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.
6.     Mengapa pelajaran pancasila di ajarkan disekolah? Jelaskan!
Jawaban :
Karena pancasila adalah salah satu falsafah hidup terbaik di dunia. Pendidikan pancasila wajib diajarkan di sekolah-sekolah agar generasi muda mampu menjadi warga negara yang mengamalkan Pancasila dalam kehidupannya.
7.     Mengapa pelajaran agama di ajarkan disekolah? Jelaskan!
Jawaban :
Karena untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang maha Esa dan berakhlak mulia serta peningkatan potensi spiritual. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Agama. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
8.     Mengapa kurikulum 2013 diganti dengan kurikulum KTSP? Jelaskan alasannya !
Jawaban :
Karena seperti ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan materi yang diajarkan dalam buku pelajaran, juga masih banyak guru yang kesulitan menjalankan evaluasi K13 yang berbasis diskripsi. Dan kurikulum 2013 itu masih setengah matang dan dipaksakan untuk dijalankan di seluruh Indonesia.
9.     Jelaskan pengertian komponen-komponen kurikulum di bawah ini :
1)   Komponen tujuan;
2)   Komponen bahan ajar;
3)   Komponen PBM;
4)   Komponen penilaian.
Jawaban :
1)   Komponen tujuan
Komponen kurikulum yang menjadi target atau sasaran yang mesti dicapai dari melaksanakan kurikulum. Tujuan kurikulum dapat dispesifikasikan ke dalam tujuan pembelajan umum yaitu, berupa tujuan yang dicapai untuk satu semester, atau tujuan pembelajan khusus yang menjadi target pada setiap kali tatap muka.
2)   Komponen bahan ajar
Komponen yang didesain untuk mencapai komponen tujuan. Yang dimaksud komponen bahan ajar adalah bahan-bahan kajian yang terdiri dari  ilmu pengetahuan, nilai, pengalaman, dan keterampilan yang dikembangkan ke dalam proses pembelajaran guna mencapai komponen tujuan. Komponen bahan ajar harus dikembangkan untuk mencapai komponen tujuan, oleh karena itu komponen tujuan dengan komponen bahan ajar atau dengan komponen-komponen yang lainnya haruslah dilihat dari sudut hubungan yang fungsional.
3)   Komponen PBM
Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen pengajaran, kegiatan belajar akan menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru dan peserta didik terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya. Dalam interaksi itu peserta didiklah yang lebih aktif, bukan guru. Guru hanya berperan sebagai motivator dan fasilitator. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individual peserta didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual dan psikologis. Kerangka berpikir demikian dimaksudkan agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada setiap peserta didik secara individual.
4)   Komponen penilaian
Penilaian merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kurikulum. Melalui penilaian, dapat ditentukan nilai dan arti kurikulum sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan apakah suatu kurikulum perlu dipertahankan atau tidak, dan bagian-bagian mana yang harus disempurnakan. Penilaian merupakan komponen untuk melihat efektivitas pencapaian tujuan. Dalam konteks kurikulum, penilaian dapat berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang ditetapkan telah tercapai atau belum, atau penilaian digunakan sebagai umpan balik dalam perbaikan strategi yang ditetapkan.
10.  Jelaskan hubungan tujuan dengan bahan ajar !
Jawaban :
Hubungan tujuan dan bahan ajar itu saling berkaitan, karena kalau tidak ada bahan ajar, tujuan pembelajaran pun tidak akan tercapai. Jadi dalam mempersiapkan bahan ajar yang akan disampaikan kepada peserta didiknya harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditentukan.
11.  Jelaskan hubungan tujuan dengan PBM !
Jawaban :
Hubungan tujuan dan PBM juga sama saling berkaitan, karena tidak akan tercapai tujuan kalau tidak ada proses belajar mengajar. Maka dalam proses belajar mengajar harus sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut.
12.  Jelaskan hubungan tujuan dengan penilaian !
Jawaban :
Tidak akan tercapai suatu tujuan kalau tidak ada penilaian, karena dalam penilaian selama proses belajar harus sesuai menuju pada tujuan pembelajaran yang sudah ditentukan.
13.  Jelaskan apa yang dimaksud dengan :
a.    Kurikulum nasional;
b.    Kurikulum insitusional (KTSP)
c.    Silabus;
d.    RPP.
Jawaban :
a.    Kurikulum nasional
kurukulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan teartentu. Kurikulum yang disusun oleh tim pengembang tingkat nasional dan digunakan secara nasional sebagai penyempurna dari kurikulum 2013
b.    Kurikulum insitusional (KTSP)
Kurikulum Tingkat Kesatuan Pendidikan (KTSP) adalah suatu ide tentang pengembangan kurikulum yang diletakan pada posisi yang paling dekat dengan pembelajaran, yakni sekolah dan satuan pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendididkan (KTSP) merupakan salah satu wujud reformasi pendidikan yang memberikan otonomi kepada sekolah dan satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi, tuntunan, dan kebutuhan masing-masing.
c.    Silabus
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan kelompok mata pelajaran atau tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok atau pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber, bahan atau alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok atau pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.
d.    RPP
RPP adalah seperangkat rencana yang menggambarkan proses dan prosedur pengorganisasian kegiatan pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang telah ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan di dalam silabus.
14.  Kurikulum itu sudah bagus karenanya tak perlu diubah. Apa sesungguhnya yang harus diperbaiki itu, sebutkan 5 (lima) macam !
Jawaban:
-     Belum terpenuhinya semua sarana dan prasarana untuk kenyamanan dalam proses belajar mengajar.
-      Kelengkapan buku yang menunjang untuk murid masih kurang.
-      Kelengkapan alat peraga untuk PBM
-      Metode Pendekatan Guru dengan murid
-      SDM dari gurunya sendiri
15.  Mengapa ada ujian nasional ? Jelaskan maksud dan tujuannya !
Jawaban :
Karena untuk meningkatkan mutu bangsa, yang harus ditingkatkan itu adalah sektor pendidikan. Orang tidak akan bisa meraih sukses tanpa bekerja keras, baik siswa maupun guru. Bagi pelajar, salah satu wadah kerja keras itu adalah UN.

Tujuannya adalah untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik, mengukur mutu pendidikan ditingkat nasional, propinsi, kabupaten/kota, dan sekolah/madrasah. Dan juga mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan secara nasional.

IBM

INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR
Dalam proses pembelajaran antara pendidik dan peserta didik harus ada interaksi. Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik, untuk mencapai tujuan pendidikan, yang berlangsung dalam lingkungan tertentu. Lingkungan ini diatur serta diawasi agar kegiatan belajar terarah sesuai dengan tujuan pendidikan. Pendidikan berfungsi membantu peserta didik dalam pengembangan dirinya, yaitu pengembangan semua potensi, kecakapan, serta karakteristik pribadinya ke arah yang positif, baik bagi dirinya maupun lingkungannya.
fungsi dari tujuan pengajaran:
1.    Menjadi titik sentral perhatian dan pedoman dalam melaksanakan aktivitan/ interaksi belajar mengajar.
2.    Menjadi penentu arah kegiatan
3.    Menjadi titik sentral perhatian dan pedoman dalam menyusun desain pengajaran
4.    Menjadi materi pokok yang akan dikembangkan dalam memperdalam dan mempeluasruang lingkupnya.
5.    Menjadi pedoman untuk mencegah/menghindari penyimpangan yang akan terjadi.
Interaksi terdiri dari kata inter (antar), dan aksi (kegiatan). Jadi interaksi adalah kegiatan timbal balik. Dari segi terminologi “interaksi” mempunyai arti hal saling melakukan aksi; berhubungan; mempengaruhi; antar hubungan. Interaksi akan selalu berkait dengan istilah komunikasi atau hubungan. Sedang “komunikasi” berpangkal pada perkataan “communicare” yang berpartisipasi, memberitahukan, menjadi milik bersama. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, Interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain.  Jadi, interaksi belajar mengajar adalah kegiatan timbal balik antara guru dengan anak didik, atau dengan kata lain bahwa interaksi belajar mengajar adalah suatu kegiatan sosial, karena antara anak didik dengan temannya, antara si anak didik dengan gurunya ada suatu komunikasi sosial atau pergaulan.
Roestilah (1994 : 35 ) mengemukakan bahwa “interaksi yaitu proses dua arah yang mengandung tindakan atau perbuatan komunikator maupun komunikan”. Berarti interaksi dapat terjadi antar pihak jika pihak yang terlibat saling memberikan aksi dan reaksi. Suhubungan dengan itu interaksi adalah proses saling mengambil peran. Zahra ( 1996 :91 ) mengemukan bahwa “Interaksi merupakan kegiatan timbal balik. Interaksi belajar mengajar berarti suatu kegiatan social karena antara peserta didik dan gurunya ada suatu komunikasi sosial atau pergaulan”. Menurut Homans (Ali, 2004: 87) mendefisikan interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang terhadap individu lain diberi ganjaran atau hukuman dengan menggunakan suatu tindakan oleh individu lain yang menjadi pasangannya. Menurut Sardiman (1986:8)” interaksi yang dikatakan dengan iteraksi pendidikan apabila secara sadar mempunya tujuan untuk mendidik, untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan”.  Sedangkan menurut Soetomo, bahwa interaksi belajar mengajar ialah hubungan timbal balik antara guru (pengajar) dan anak (murid) yang harus menunjukkan adanya hubungan yang bersifat edukatif (mendidik). Di mana interaksi itu harus diarahkan pada suatu tujuan tertentu yang bersifat mendidik, yaitu adanya perubahan tingkah laku anak didik ke arah kedewasaan.
Macam-macam interaksi dalam pembelajaran :
Menurut Nana Sudjana, ada tiga pola komunikasi dalam proses interaksi guru-siswa, yakni komunikasi sebagai aksi, interaksi dan transaksi.
a.       Komunikasi sebagai aksi atau komunikasi satu arah
Yaitu guru sebagai pemberi aksi dan siswa sebagai penerima aksi. Guru aktif, siswa pasif, mengajar dipandang sebagai kegiatan menyampaikan bahan pelajaran.
b.      Komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi dua arah
Yaitu guru bisa berperan sebagai pemberi aksi atau penerima aksi. Sebaliknya siswa, bisa penerima aksi bisa pula pemberi aksi. Dialog akan terjadi antara guru dengan siswa.
c.       Komunikasi sebagai transaksi atau komunikasi banyak arah
Yaitu komunikasi tidak hanya terjadi antara guru dengan siswa, tetapi juga antara siswa dengan siswa. Siswa dituntut aktif dari pada guru. Siswa, seperti halnya guru, dapat berfungsi sebagai sumber belajar bagi siswa lain.
Situasi pengajaran atau proses interaksi belajar mengajar bisa terjadi dalam berbagai pola komunikasi di atas, akan tetapi komunikasi sebagai transaksi yang dianggap sesuai dengan konsep cara belajar siswa aktif (CBSA) sebagaimana yang dikehendaki para ahli dalam pendidikan modern.
sedangkan menurut Profesor Djaali ada empat interaksi pendidikan yaitu :
(1) Interaksi murid dengan murid
(2) Interaksi murid dengan guru
(3) Interaksi murid dengan sumber belajar, dan
(4) Interaksi murid dengan lingkungan.
Pola arus interaksi guru-siswa di kelas memiliki berbagai kemungkinan arus komunikasi. Sedikitnya menurut Heinich ada empat pola arus komunikasi:
(1) komunikasi guru-siswa searah,
(2) komunikasi dua arah — arus bolak-balik–,
(3) komunikasi dua arah antara guru-siswa dan siswa-siswa,
(4) komunikasi optimal total arah.
Dalam proses interaksi antara guru dan siswa memiliki pola yang meliputi sebagai berikut:
1. Pola dasar interaksi
Dalam pola dasar interaksi belum terlihat unsur pembelajaran yang meliputi unsur guru, isi pembelajaran dan siswa yang semuanya belum ada yang mendominasi proses interaksi dalam pembelajaran. Dijelaskan bahwa adakalanya guru mendominasi proses interaksi, adakalanya isi yang lebih mendominasi, adakalanya juga siswa yang mendominasi interaksi tersebut atau bahkan adakalanya antara guru dan siswanya secara seimbang saling mendominasi.
2. Pola interaksi berpusat pada isi
Dalam proses pembelajaran terdapat kegiatan guru mengajarkan isi pembelajaran disatu sisi dan siswa mempelajari isi pembelajaran tersebut disisi lain, namun kegiatan tersebut masih berpusat pada isi/materi pembelajaran.
3. Pola interaksi berpusat pada guru
Pada pembelajaran yang kegiatannya semata-mata bepusat pada guru, pada umumnya terjadi proses yang bersifat penyajian atau penyampaian isi atau materi pembelajaran. Dalam praktik pembelajaran semacam ini, kegiatan sepenuhnya ada dipihak guru yang bersangkutan, sedangkan siswa hanya menerima dan diberi pembelajaran yang disebut juga siswa pasif.
4. Pola interaksi berpusat pada siswa
Pada pembelajaran yang kegiatannya semata-mata berpusat pada siswa, siswa merencanakan sendiri materi pembelajaran apa yang akan dipelajari dan melaksanakan proses belajar dalam mempelajari materi pembelajaran tersebut. Peran guru lebih banyak bersifat permisif, yakni membolehkan setiap kegiatan yang dilakukan para siswa dalam mempelajari apapun yang dikehendakinya.
Untuk meningkatkan keaktifan proses pembelajaran ini, guru membuat perencanaan sebaik-baiknya dan pelaksanaannya didasarkan atas rencana yang telah dibuat. Dengan cara semacam ini, diharapkan hasil belajar lebih baik lagi sehingga terjadi keseimbangan keaktifan baik dipihak guru maupun dipihak siswa.
 Proses interaksi dalam pembelajaran :
Dalam proses edukatif paling tidak mengandung ciri-ciri antara lain :
1.      Ada tujuan yang ingin dicapai
2.      Ada bahan/pesan yang menjadi isi interaksi
3.      Ada pelajaran yang aktif mengalami
4.      Ada guru yang melaksanakan
5.      Ada metode untuk mencapai tujuan
6.      Ada situasi yang memungkinkan proses belajar-mengajar berjalan dengan baik.
Adapun komponen-komponen tersebut meliputi :
1.      Tujuan pendidikan dan pengajaran
2.      Peserta didik atau siswa
3.      Tenaga kependidikan khususnya guru,
4.      Perencanaan pengajaran sebagai suatu segmen kurikulum
5.      Strategi pembelajaran
6.      Evaluasi pengajaran.
Faktor-faktor yang mendasari terjadinya interaksi edukatif adalah sebagai berikut.
· Faktor tujuan
· Faktor bahan/materi/isi
· Faktor guru dan peserta didik
· Faktor metode
· Faktor situasi
1.        Faktor Tujuan 
Tujuan pendidikan/pengajaran yang bersifat umum maupun khusus, umumnya berkisar pada tiga jenis :
· Tujuan kognitif, tujuan yang berhubungan dengan pengertian dan pengetahuan
· Tujuan efektif, tujuan yang berhubungan dengan usaha merubah minat, setiap nilai, dan alasan
· Tujuan psikomotorik, tujuan yang berkaitan dengan keterampilann menggunakan telinga, tangan, mata, alat indra, dan sebagainya.
Tiga syarat utama untuk terwujudnya interaksi pengajaran yang edukatif, adalah:
· Merumusakan tujuan, menyempitkan lapangan tujuan umum ke dalam bentuk yang tampak pada tingkah laku peserta didik;
· Mengkhususkan tujuan;
· Memfungsional tujuan, bahwa tujuan yang diharapkan nyata berguna bagi perkembangan peserta didik.
2.        Faktor Bahan Atau Materi Pengajaran
Penguasaan bahan oleh guru seyogyanya mengarah pada spesifik/ takhasus atas ilmu kecakapan yang diajarkanya. Mengingat isi, sifat, dan luasnya ilmu , maka guru harus mampu menguraikan ilmu atau kecakapan dan apa-apa yang akan di ajarkanya kedalam bidang ilmu atau kecakapan yang bersangkutan. Penyusunan unsure-unsur atau informasi-informasi yang baik itu bukan saja untuk mempermudah peserta didik untuk mempelajarinya, melainkan juga memberikan gambaran yang jelas sebagai petunjuk dalam menetapkan metode pengajaran.
Isi bahan pengajaran itu luas sekali dan berbeda dalam tinggi rendah serta sukar mudahnya. Macamnya pun banyak. Karenanya , sebelum menentukan bahan study pengajaran yang akan di pelajari oleh peserta didik perlu di adakan pilihan terlebih dahulu. Pilihan itu biasanya berdasarkan pada pedoman –pedoman tertentu agar keseluruhan bahan yang telah di tentukan itu teratur dan mencerminkan suatu hal yang integral bagi hidup peserta didik selama di sekolah sekarang, dan sesudahnya. Yang menentukan pedoman tersebut ialah pihak Depdikbud, isi pedoman yang di maksud adalah disekitar kesesuaian bahan pengajaran dengan tujuan institusional, tujuan kurukulum, tujuan pengajaran, serta tujuan pendidikan pada umumnya dan haluan Negara . selain itu , bahan pengajaran pula harus disesuaikan dengan tingkatan jenjang pendidikan, tahap perkembangan jiwa dan jasmani peserta didik serta kebutuhan-kebutuhan yang ada pada mereka.
3.        Faktor Guru Dan Peserta Didik
Guru dan peserta didik adalah dua subjek dalam berinteraksi pengajaran. Guru sebagai pihak yang berinisiatif awal untuk penyelenggaraan pengajaran, sedankan peserta didik sebagai pihak yang secara langsung mengalami dan mendapatkan manfaat dari peritiwa belajar mengajar yang terjadi. Guru sebagai pengarah dan pembimbing berdasarkan tujuan yang telah di tentukan, sedang peserta didik ialah sebagai yang menuju pada arah tujuan melalui aktifitas dan berinteraksi langsung dengan lingkungan sebagai sumber belajar atas bimbingan guru. Jadi kedua pihak ( guru dan peserta didik) menunjukan sebagai dua subjek pengajaran yang sama-sama menempati status yang penting.
Kemudian untuk menjadikan perofesionalitas kerja guru setidaknya ia memiliki 4 bidang utama.
· Guru harus mengenal setiap peserta didik yang dipercayakan kepadanya
· Guru harus memiliki kecakapan member bimbingan, sebab mengajar hakekatnya membimbing.
· Guru harus memiliki dasar penetahuan yang luas tentang tujuan pendidikan / pengajaran
· Guru harus memiliki pengetahuan bulat dan baru mengenai ilmu yang di ajarkan.
4.        Faktor Metode
Metode adalah suatu kata kerja yang sistematik dan umum. Ia berfungsi sebagai alat untuk mencapai satu tujuan. Makin baik suatu metode makin efektif pula dalam pencapaianya. Tetapi tidak ada satu metode pun yang di katakana paling baik/dipergunakan bagi semua macam usaha pencapaian tujuan, baik tidaknya, tepat tidaknya satu metode di pengaruhi oleh berbagai factor. Faktor utama yang menentukan metode adalah tujuan yang akan dicapai.
Metode mengajar/pengajaran, selain ditentukan/dipengaruhi oleh tujuan juga oleh factor kesesuaian dengan bahan, kemampuan guru untuk menggunakannya, keadaan peserta didik, dan situasi yang melingkupinya. Dengan kata lain, penerapan suatu metode pengajaran harus memiliki:
· Relevansi dengan tujuan
· Relevansi dengan bahan
· Relevansi dengan kemampuan guru
· Relevansi dengan keadaan peserta didik
· Relevansi dengan situasi pengajaran.
Secara umum metode-metode pengajaran dapat diklasifikasikan menjadi dua:
· Metode pengajaran individual
· Metode pengajaran kelompok/klasikal.
Adapun macam-macam metode itu sesungguhnya tidak terbatas banyaknya sekadar mengenal sebagian metode, dibawah ini penulis sebutkan sebagian dari banyak metode.
· Metode ceramah/persentasi/kuliah mimbar
· Metode diskusi (dengan segala jenisnya)
· Metode Tanya jawab
· Metode resitasi/penugasan
· Metode experiment
· Metode proyek
· Metode karya wisata
· Metode-metode lainnya.
5.        Faktor Situasi
Yang dimaksud situasi adalah suasana belajar atau suasana kelas pengajaran. Termasuk dalam pengertian ini adalah suasana yang berkaitan dengan peserta didik, keadaan guru, keadaan kelas-kelas pengajaran yang berdekatan yang mungkin mengganggu atau terganggu karena penggunaan suatu metode. Terhadap situasi yang dapat diperhitungkan, kita (guru) dapat menyediakan alternative metode-metode mengajar dengan mengingat kemungkina-kemungkinan perubahan situasi. Situasi pengajaran yang kondusif (mendukung) sangat menentukan dan bahkan menjadi salah satu indicator terciptanya interaksi pengajaran, yang edukatif sifatnya.
Terhadap situasi yang tidak dapat diperhitungkan yang disebabkan oleh perubahan secara tiba-tiba diperlukan kecekatan untuk mengambil keputusan dengan segera mengenai cara-cara/metode-metode yang akan digunakan. Ketrampilan berimprovisasi dan kesigapan mengambil keputusan sungguh sangat diperlukan dalam situasi demikian. Kita tidak boleh tertegun atau terhenti sehingga tidak ada usaha sedikitpun untuk melaksanakan program dalam rangka mencapai tujuan, karena bukan saja akan merusak seluruh rencana pengembangan program melainkan juga merusak perkembangan peserta didik itu sendiri.
6.        Faktor sumber pelajaran
Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali. Pemanfaatan sumber-sumber pengajaran tersebut tergantung pada kreativitas guru, waktu, biaya serta kebijakan-kebijakan lainnya.
Interaksi edukatif tidaklah berproses dalam kehampaan , tetapi ia berproses dalam kemaknaan. Didalamnya ada sejumlah nilai yang disampaikan kepada anak didik . Nilai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi diambil dari berbagai sumber guna dipakai dalam proses interaksi edukatif.
7.        Faktor alat dan peralatan
Alat dan peralatan adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Alat tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi juga sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan.
Alat dapat dibagi menjadi dua yaitu :
· Alat Nonmaterial, yang terdiri dari suruhan , perintah , larangan, nasihat dan sebagainya
· Alat material, yang  dapat berupa globe, papan tulis, batu kapur, gambar, diagram, lukisan, slide dan sebagainya
8.        Faktor evaluasi
Evaluasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan data tentang sejauh mana keberhasilan anak didik dalam belajar dan keberhasilan guru dalam mengajar. Evaluasi dapat dilakukan oleh guru dengan memakai seperangkat istrumen penggali data seperti tes perbuatan, tes tertulis dan tes lisan
Tujuan evaluasi sendiri untuk  :
· Mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan anak didik dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
· Memungkinkan guru menilai aktifitas/pengalaman yang didapat dan menilai metode mengajar yang dipergunakan.
Proses-proses pembelajaran (materi pelajaran, metode dan teknik mengajar, sumber belajar).
Komponen-komponen Pembelajaran
Komponen-komponen tersebut antara lain adalah tujuan pengajaran yang ingin dicapai, materi pengajaran, metode pengajaran, media pengajaran, evaluasi, guru, siswa, administrasi pengajaran, sarana dan prasarana pengajaran (Sudaryo, 1990 : 5).
a) Tujuan Pembelajaran
Tujuan merupakan salah satu komponen pembelajaran yang dapat
mempengaruhi komponen pembelajaran lainnya seperti materi, metode, media, evaluasi, peserta didik, administrasi pengajaran, sarana dan prasarana. Semua komponen itu harus sesuai dan digunakan untuk mencapai tujuan seefektif dan seefisien mungkin. Jika salah satu komponen tidak sesuai dengan tujuan, maka kegiatan belajar mengajar tidak akan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa tujuan, karena dengan tujuan menentukan ke arah mana kegiatan akan dibawa. Sebagai unsur penting untuk suatu kegiatan, maka dalam kegiatan apapun tujuan tidak bisa diabaikan.
b) Materi Pelajaran
Materi pelajaran merupakan komponen pembelajaran yang selama ini
dipahami oleh sebagian guru adalah buku paket mata pelajaran yang diwajibkan untuk dimiliki oleh peserta didik. Sumber belajar yang terbatas itu tentunya akan mempengaruhi pembelajaran tekstual terbatas pada buku paket yang dimiliki. Materi pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar
(Djamarah dan Zain, 2006: 43). Tanpa materi pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Guru yang akan mengajar pasti memiliki dan harus menguasai materi pelajaran yang akan disampaikan pada peserta didik. Biasanya aktivitas peserta didik akan berkurang bila bahan pelajaran yang diberikan guru kurang menarik perhatiannya. Materi pelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik karena akan memotivasi peserta didik untuk belajar. Maslow (dalam Djamarah dan Zain, 2006 : 44) mengatakan bahwa minat seseorang akan muncul bila sesuatu itu terkait dengan kebutuhannya. Sedangkan Rohani (2004 : 167) mengatakan bahwa materi pelajaran dapat diperoleh dari sumber belajar, dimana penggunaan sumber belajar yang bervariatif memiliki banyak kegunaan bagi peserta didik diantaranya: Memotivasi belajar siswa, Pencapaian tujuan pembelajaran, Mendukung Program pembelajaran (aktivitas belajar), Membantu memecahkan masalah, Mendukung pengajaran presentasi (pembelajaran yang mengaktifkan siswa).
c) Metode Pembelajaran
Metode adalah suatu cara kerja yang sistematik dan umum, berfungsi sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan (Rohani, 2004 : 118).  Semakin baik suatu metode makin efektif pula dalam pencapaiannya. Akan Tetapi tidak ada satupun metode yang paling baik bagi semua macam pencapaian tujuan, karena dipengaruhi oleh berbagai faktor dan yang paling menentukan adalah tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan guru harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Adapun jenis metode-metode pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru adalah: Metode Ceramah, Metode Tanya jawab, Metode Demonstrasi, Metode Experiment,Metode Resitasi/ penugasan,Metode Drill/latihan, Metode Problem solving, Metode Inquiry, Metode Teknik Klarifikasi Nilai, Metode Role Playing, Metode Simulasi, Metode Karya wisata, Metode Kerja Kelompok, Metode Diskusi, dan Metode Proyek. Macam-macam metode di atas dapat menjadi pilihan bagi guru, yang sebelumnya telah disesuaikan dengan tujuan, peserta didik, situasi, fasilitas, dan kemampuan guru sendiri. Sehingga kegiatan pembelajaran dapat optimal dan tujuan pendidikan dapat dicapai.
d) Media Pembelajaran
Media pendidikan menurut Santoso S Hamidjojo dalam Rumamouk
(1988 : 6)
adalah media yang penggunaannya diintegrasikan dengan tujuan dan isi pengajaran, dimaksudkan untuk mempertinggi mutu kegiatan belajar mengajar. Hal tersebut biasanya sudah dituangkan dalam garis-garis besar tujuan pembelajaran.
Danim (1994 : 12-13) mengemukakan penggunaan media oleh guru dapat diperoleh beberapa manfaat yaitu :
1) Meningkatkan mutu pendidikan, di mana dapat mempercepat dan membantu guru menggunakan waktu belajar dengan lebih baik,
2) Pendidikan yang individual, dengan mengurangi kontrol guru yang tradisional dan kaku, memberi kesempatan luas kepada anak untuk berkembang menurut kemampuannya dan belajar sesuai cara yang dikehendakinya;
3) Pengajaran lebih ilmiah, dengan merencanakan program pengajaran yang logis, dan sistematis, serta mengembangkan kegiatan pengajaran melalui penelitian,
4) Data lebih konkret;
5) Membawa dunia nyata ke dalam kelas;
6) Penyajian pendidikan lebih luas.
e) Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi atau penilaian dalam pembelajaran mutlak harus dilakukan oleh
guru, seperti yang dikemukakan oleh
Rohani (2004: 168) bahwa penilaian
merupakan bagian integral dari pembelajaran itu sendiri, yang tidak terpisahkan dalam penyusunan dan pelaksanaan pembelajaran. Penilaian bertujuan menilai efektivitas dan efisiensi kegiatan pembelajaran sebagai bahan untuk perbaikan dan penyempurnaan program serta pelaksanaannya.
Hambatan dalam interaksi pembelajaran : 
Kendala-kendala lain yang mempengaruhi proses pembelajaran di dalam kelas antara lain adalah :
(1) perkiraan yang tidak tepat terhadap inovasi
(2) konflik dan motivasi yang kurang sehat
(3) lemahnya berbagai faktor penunjang sehingga mengakibatkan tidak berkembangnya inovasi yang dihasilkan
(4) keuangan (financial) yang tidak terpenuhi
(5) penolakan dari sekelompok tertentu atas hasil inovasi, serta
(6) kurang adanya hubungan sosial dan publikasi.
Masalah-Masalah internal belajar :
#Faktor intern yang dialami dan dihayati oleh siswa yang berpengaruh para proses belajar siswa.
1)      Faktor Jasmaniah
a.       Faktor kesehatan
b.      Cacat Tubuh
2)      Faktor Psikologis
a.       Inteligensi
b.      Perhatian
c.       Minat
d.      Bakat
e.       Motif
f.       Kematangan
g.      Rasa percaya diri siswa
h.      Kebiasaan belajar
3)      Faktor Kelelahan
#Faktor-Faktor Ekstern Belajar yang berpengaruh pada aktivitas belajar.
1)      Guru sebagai pembina siswa belajar
2)      Prasarana dan sarana pembelajaran
3)      Kebijakan Penilaian
4)      Kurikulum
5)      Metode Mengajar
#Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Masalah Belajar
1)      Faktor-faktor internal, antara lain: Fisiologis & Psikologis
2)      Faktor eksternal, antara lain: Sekolah & Lingkungan.
#Masalah-masalah yang timbul didalam pelaksanaan pengajaran dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1)      Masalah pengarahan
2)      Masalah evaluasi dan penilaian
3)      Masalah isi dan urut-urutan pelajaran
4)      Masalah metode dan sistem penyajian bahan pelajaran

5)      Masalah hambatan-hambatan