ORGANISASI DAN SISTEM PERTANDINGAN
Organisasi
Organisasi (Yunani: ὄργανον, organon -
alat) adalah suatu kelompok orang dalam suatu wadah unt tujuan bersama.
Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi
dipelajari oleh periset dari berbagai bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi,
ilmu politik, psikologi, dan manajemen.[1] Kajian mengenai organisasi sering
disebut studi organisasi (organizational studies), perilaku organisasi
(organizational behaviour), atau analisa organisasi (organization analysis).
Definisi
Terdapat beberapa teori dan perspektif
mengenai organisasi, ada yang cocok sama satu sama lain, dan ada pula yang
berbeda.[1] Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana
orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana,
terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang,
material, mesin, metode, lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain
sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan
organisasi.[1]
Menurut para ahli terdapat beberapa
pengertian organisasi sebagai berikut.
Stoner mengatakan bahwa organisasi
adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah
pengarahan atasan mengejar tujuan bersama [2].
James D. Mooney mengemukakan bahwa
organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan
bersama [3].
Chester I. Bernard berpendapat bahwa
organisasi adalah merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan
oleh dua orang atau lebih[4].
Stephen P. Robbins menyatakan bahwa
Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar,
dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas
dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau
sekelompok tujuan. [5].
Sebuah organisasi dapat terbentuk karena
dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti penyatuan visi dan misi serta tujuan
yang sama dengan perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap
masyarakat.[1] Organisasi yang dianggap baik adalah organisasi yang dapat
diakui keberadaannya oleh masyarakat disekitarnya, karena memberikan kontribusi
seperti; pengambilan sumber daya manusia dalam masyarakat sebagai
anggota-anggotanya sehingga menekan angka pengangguran [1]
Orang-orang yang ada di dalam suatu
organisasi mempunyai suatu keterkaitan yang terus menerus.[1] Rasa keterkaitan
ini, bukan berarti keanggotaan seumur hidup.[1] Akan tetapi sebaliknya,
organisasi menghadapi perubahan yang konstan di dalam keanggotaan mereka,
meskipun pada saat mereka menjadi anggota, orang-orang dalam organisasi
berpartisipasi secara relatif teratur.[1]
Partisipasi
Dalam berorganisasi setiap individu
dapat berinteraksi dengan semua struktur yang terkait baik itu secara langsung
maupun secara tidak langsung kepada organisasi yang mereka pilih.[6]. Agar
dapat berinteraksi secara efektif setiap individu bisa berpartisipasi pada
organisasi yang bersangkutan.[1] Dengan berpartisipasi setiap individu dapat
lebih mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan.[1]
Pada dasarnya partisipasi didefinisikan
sebagai keterlibatan mental atau pikiran dan emosi atau perasaan seseorang di
dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada
kelompok dalam usaha mencapai tujuan.[1].
Keterlibatan aktif dalam berpartisipasi,
bukan hanya berarti keterlibatan jasmaniah semata.[1] Partisipasi dapat
diartikan sebagai keterlibatan mental, pikiran, dan emosi atau perasaan
seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan
kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta turut bertanggung jawab
terhadap usaha yang bersangkutan.[1]
Unsur-unsur
Menuruth Keith Davis ada tiga unsur
penting partisipasi[1]:
Unsur pertama, bahwa partisipasi atau
keikutsertaan sesungguhnya merupakan suatu keterlibatan mental dan perasaan,
lebih daripada semata-mata atau hanya keterlibatan secara jasmaniah.
Unsur kedua adalah kesediaan memberi
sesuatu sumbangan kepada usaha mencapai tujuan kelompok. Ini berarti, bahwa
terdapat rasa senang, kesukarelaan untuk membantu kelompok.
Unsur ketiga adalah unsur tanggung
jawab. Unsur tersebut merupakan segi yang menonjol dari rasa menjadi anggota.
Hal ini diakui sebagai anggota artinya ada rasa “sense of belongingness”.
Jenis-jenis
Keith Davis juga mengemukakan
jenis-jenis partisipasi, yaitu sebagai berikut[1]:
- Pikiran (psychological participation)
- Tenaga (physical partisipation)
- Pikiran dan tenaga
- Keahlian
- Barang
- Uang
- Syarat-syarat
Agar suatu partisipasi dalam organisasi
dapat berjalan dengan efektif, membutuhkan persyaratan-persyaratan yang mutlak
yaitu .
Waktu. Untuk dapat berpatisipasi
diperlukan waktu. Waktu yang dimaksudkan disini adalah untuk memahamai pesan
yang disampaikan oleh pemimpin. Pesan tersebut mengandung informasi mengenai
apa dan bagaimana serta mengapa diperlukan peran serta[1].
Bilamana dalam kegiatan partisipasi ini
diperlukan dana perangsang, hendaknya dibatasi seperlunya agar tidak
menimbulkan kesan “memanjakan”, yang akan menimbulkan efek negatif.[1]
Subyek partisipasi hendaknya relevan
atau berkaitan dengan organisasi dimana individu yang bersangkutan itu
tergabung atau sesuatau yang menjadi perhatiannnya.[1]
Partisipasi harus memiliki kemampuan
untuk berpartisipasi, dalam arti kata yang bersangkutan memiliki luas lingkup
pemikiran dan pengalaman yang sama dengan komunikator, dan kalupun belum ada,
maka unsur-unsur itu ditumbuhkan oleh komunikator.[1]
Partisipasi harus memiliki kemampuan
untuk melakukan komunikasi timbal balik, misalnya menggunakan bahasa yang sama
atau yang sama-sama dipahami, sehingga tercipta pertukaran pikiran yang efektif
atau berhasil.[1]
Para pihak yang bersangkutan bebas di
dlam melaksanakan peran serta tersebut sesuai dengan persyaratan yang telah
ditentukan.[1]
Bila partisipasi diadakan untuk
menentukan suatu kegiatan hendaknya didasarkan kepada kebebasan dalam kelompok,
artinya tidak dilakukan pemaksaan atau penekanan yang dapat menimbulkan
ketegangan atau gangguan dalam pikiran atau jiwa pihak-pihak yang bersangkutan.
Hal ini didasarkan kepada prisnsip bahwa partisipasi adalah bersifat
persuasif.[1]
Partisipasi dalam organisasi menekankan
pada pembagian wewenang atau tugas-tugas dalam melaksanakan kegiatannya dengan
maksud meningkatkan efektif tugas yang diberikan secara terstruktur dan lebih
jelas.[1]
Bentuk-bentuk organisasi
Organisasi politik
Organisasi sosial
Organisasi mahasiswa
Organisasi olahraga
Organisasi sekolah
Organisasi negara
FAKTOR KUNCI ORGANISASI DALAM STRATEGI
DAUR HIDUP ORGANISASI
PENDAHULUAN
Organisasi sebagai alat dalam arti
abstrak untuk merealisir, apa yang menjadi keputusan starategik yang
ditetapkan, maka mau tidak harus mengikuti atas perubahan lingkungan yang
digerakkan oleh kekuatan kepemimpinan untuk hidup dan bertahan, oleh karena
itu, organisasi sebagai alat dimanifestasikan terutama dalam hubungan dua
faktor yang disebut dengan fleksibilitas disatu sisi dan disisi lain adalah
dapat tidaknya dikontrol.
Oleh karena itu, suatu organisasi dalam
abad 21, haruslah dibangun sebagai organisasi yang memiliki sifat fleksibel dan
mudah dikontrol, maka organisasi itu tidaklah terlalu muda atau terlalu tua,
tahap ini dinamakan PRIMA dalam daur hidup organisasi. Organisasi dalam keadaan
PRIMA, benar-benar diperlengkapi untuk menerima dan menanggapi perubahan yang
cepat didalam pasar, teknologi, kompetisi dan kebutuhan pelanggan.
Bertolak dari pemikiran bahwa kunci
organisasi yang mampu mendukung daur hidup organisasi kedalam posisi PRIMA yang
mampu diremajakan secara berkelanjutan terletak pada faktor fleksibilitas dan
kontrol, oleh karena itu pemilihan model struktur organisasi sangat menentukan.
Dalam pemilihan, walaupun suatu model
struktur dibangun atas dasar prinsip-prinsip yang telah dipahami, menyangkut
hal-hal yang terkait dengan 1) pembagian tugas ; 2) pendelegasian wewenang ; 3)
disiplin ; 4) kesatuan perintah ; 5) Kesatuan arah ; 6) Rentangan pengawasan ;
7) Koordinasi ; Jenjang organisasi ; 9) Sentralisasi ; 10) Inisiatif ; 11)
Budaya.
KEEFEKTIFAN DAN PENDEKATAN
Untuk menerapkan pokok pikiran yang
diungkapkan diatas, maka dijelaskan secara singkat yang terkait dengan :
Keefektifan organisasi :
Tidak ada satu difinisipun yang dapat
merumuskan untuk mengungkapkan yang dimaksud dengan keefektifan organisasi.
Oleh karena itu dalam teori organisasi memberikan jawaban lain terhadap
pertanyaan “apa yang membuat organisasi effektif ?” Jawabannya adalah struktur
organisasi yang tepat dimana didalamnya termasuk bahwa cara kita menempatkan
orang serta pekerjaannya dan menetapkan peran serta hubungan mereka.
Bertolak dari pikiran diatas, maka
keefektifan organisasi akan didukung oleh kekuatan kebiasaan pikiran yang
terkait dengan 1) Organisasi digerakkan oleh manusia dalam melaksanakan
pekerjaan sejalan dengan sasaran dan rencana ; 2) Bentuk mengikuti fungsi ; 3)
Keputusan dibuat dekat sumber informasi ; 4) Sistem penghargaan ; 5) Komunikasi
horizontal dan vertical ; 6) Menghindari konflik individu dan atau kelompok ;
7) Membangun organisasi system terbuka ; Organisasi berintraksi dengan
lingkungan ; 9) Ada nilai kebersamaan yang didukung strategi manajemen ; 10)
Kekuatan dalam umpan balik untuk individu dan kelompok sehingga mampu mendorong
belajar.
Pendekatan organisasi :
Keyakinan bahwa keefektifan organisasi
tidak dapat dirumuskan karena ada perbedaan pandangan, oleh karena itu, maka
pemahamannya melalui suatu pendekatan yang sering diungkapkan dengan apa yang
disebut :
1) Pendekatan pencapaian tujuan,
menyatakan bahwa keefektifan sebuah organisasi harus dinilai dengan pencapaian
tujuan ketimbang caranya.
2) Pendekatan sistim, bahwa organisasi
terdiri sub bagian yang saling berhubungan, oleh karena itu dinilai berdasarkan
kemampuannya untuk dan mempertahankan stabilitas dan keseimbangan.
3) Pendekatan stakeholders, dikatakan
efektif apabila dapat memenuhi bagi pemilik adalah laba atau investasi,
pertumbuhan penghasilan ; pegawai adalah kompensasi, tnjangan tambahan,
kepuasaan pada kondisi kerja ; pelanggan adalah kepuasan terhadap harga,
kualitas, pelayanan ; kreditur adalah kemampuan untuk membayar hutang.
4) Pendekatan nilai-nilai bersaing,
bertitik tolak dengan assumsi terdapat apa yang disebut dengan fleksibilitas
(mampu menyesuaikan diri dengan perubahan ; perolehan sumber (mampu
meningkatkan dukungan dari luar dan memperluas jumlah tenaga kerja) ;
perencanaan (tujuan jelas dan dipahami dengan benar) ; produktifitas (volume
keluaran tinggi, rasio keluaran terhadap masukan tinggi) ; Ketersediaan
informasi (saluran komunikasi membantu pemberian informasi kepada orang
mengenai hal-hal yang mempengaruhi pekerjaan mereka) ; stabilitas (perasaan
tenteram, kontinuitas, kegiatan berfungsi secara lancar) ; Tempat kerja yang
kondusif (pegawai mempercayai, menghormati serta bekerja sama dengan yang lain)
; tenaga kerja terampil (pegawai memperoleh pelatihan, mempunyai keterampilan
dan berkapasitas untuk melaksanakan pekerjaannya dengan baik)
ILMU ORGANISASI DAN FAKTOR PENENTU
Ilmu organisasi yang menjelaskan
mengenai organisasi yang mengungkapkan macam, bentuk dan tipe organisasi dapat
anda pelajari dari beberapa penulis yang banyak dapat kita ketemukan dan
dipergunakan sebagai informasi.
Dalam praktek yang perlu kita pahami
adalah tiap teori dan dalam praktek tidak menjamin pilihan atas satu model yang
tidak siap mengungkapkan dampak pengaruh perubahan yang rumit dan komplek
sehingga prinsip-prinsip organisasi tidak dapat dijalankan secara konsisten
karena ketidak mampuan memecahkan hal-hal yang terkait dengan kepentingan
individu, kelompok dan organisasi.
Dalam praktek, menurut bentuk yang
banyak diterapkan, apa yang disebut dengan 1) Organisasi staff ; 2) Organisasi
garis ; 3) Organisasi fungsional ; 4) Organisasi staff dan garis ; 5)
Organisasi garis dan fungsional ; 6) Organisasi fungsional dan staff ; 7)
Organisasi garis, fungsional dan staff ; 8)Organisasi panitia.
Dari pengalaman juga memberikan gambaran
bahwa bentuk organisasi tersebut diatas yang bersifat abstrak dan menjadi
konkrit digerakkan oleh manusia tidak mampu menjamin dalam menyesuaikan dengan
tuntutan perubahan.
Kekuatan kebiasaan pikiran dalam
mendorong tuntutan perubahan akan sejalan dengan kemampuan untuk memahami atas
dimensi sebagai komponen dari struktur organisasi yang dapat diibaratkan sebuah
kursi yang berkaki tiga dimana tanpa satu kaki, maka ia tidak berfungsi. Dalam
hal ini dipahami apa yang disebut dengan :
Pertama, disebut dengan Kompleksitas :
Merujuk kepada tingkat diferensiasi yang
terdapat dalam organisasi, maka terdapat tiga bentuk dengan karekteristik, apa
yang disebut dengan:
Pertama adalah Horizontal yang
menunjukkan adanya diferensiasi dari unit-unit berdasarkan orientasi para
anggotanya, sifat dari tugas yang dilaksanakannya serta tingkat pendidikan dan
pelatihannya ;
Kedua adalah Vertical, merujuk kepada
kedalam organisasi, berarti menunjukkan banyak atau sedikitnya tingkatan,
jumlah tingkatan ditentang olh rentang kendali ;
Ketiga adalah Spasial merujuk pada
tingkat sejauh mana lokasi berdasarkan geografis.
Kedua, disebut dengan Formalisasi :
Merujuk pada tingkat sejauh mana
pekerjaan dalam organisasi distandarisasi dalam bentuk peraturan, proseur,
instruksi dan komunikasi tertulis, itu berarti seluruh aktivitas dituangkan
dalam manual organisasi administrasi seperti manual akuntansi, personalia,,
pemasaran, pembelian.
Ketiga, disebut dengan Sentralisasi :
Sentralisasi dinyatakan sebagai tingkat
sejah mana kekuasaan formal dapat membuat kebijaksanaan-kebijaksanaan
dikonsentrasikan pada individu, unit atau suatu tingkat.
Tingkat kontrol yang dipunyai seseorang
dalam seluruh proses keputusan melalui langkah-langkah sebagai brikut 1)
Mengumpul informasi sebagai dasar pengambilan keutusan ; 2) Memproses dan menginterprestasikan
informasi sebagai dasar saran yang akan disampaikan ; 3) Membuat pilihan
mengenai apa yang hendak dilakukan ; 4) Memberikan wewenang kepada orang lain
mengenai apa yang hendak dilaksanakan ; 5) Melaksanakannya.
Bila tingkat kontrol dapat dilakukan
dengan cermat, maka kemungkinan proses pengambilan keputusan akan
disentralisasikan. Ini berarti memberikan tanggapan yang cepat terhadap
informasi yang baru, masukan yang lebih banyak, memotivasi para manajer untuk
terlibat dalam pengambilan kputusan.
Oleh karena itu, kebutuhan organisasi
yang mampu membangun satu kekuatan yang mendorong daya kemauan setiap pemain
dalam semua peran agar mampu memupuk kebiasaan kekuatan pikiran kedalam
kebiasaan yang produktif, sehingga setiap pemain peran akan selalu siap
menghadapi dari setiap perubahan.
Jadi pada organisasi dalam skala kecil,
menengah dan besar haruslah bermula dengan satu pemikiran dengan melihat masa
lalu, masa kini dan juga dengan suatu pemikiran jauh melihat kedepan bahwa
pemilihan yang terkait dengan macam, bentuk dan tipe organisasi menjadi suatu
keputusan yang bersifat strategik, sehingga perlu mendalami hal-hal penentu
yang terkait dalam membangun struktur yang bersifat fleksibel dan mudah
dikontrol yaitu yang terkait dengan apa yang disebut strategi, besaran
organisasi, teknologi, lingkungan dan pengendalian kekuasaan.
Strategi :
Menentukan struktur bertitik tolak dari
keputusan strategic dan oleh karena itu ia merupakan determine yang dominant
karena ia memberikan gambaran persfektif dengan arah jangka panjang dan
memberikan arah posisi kedalam jangka menengah.
Besaran organisasi :
Besaran organisasi merujuk kepada
variable dan jumlah total pegawai, karena manusia serta intrasaksinyalah yang
terstruktur sehingga mereka harus dihubungkan dengan struktur.
Teknologi :
Tekologi merujuk kepada informasi,
peralatan, teknik dan proses yang dibutuhkan untuk mengubah masukan menjadi
keluaran.
Lingkungan :
Ketidakpastian lingkungan yang dihadapi
oleh berbagai macam organisasi, maka rancangan structural dapat dipergunakan
sebagai alat dalam menghadapi tantangan atas lingkungan.
Pengendalian kekuasaan :
Bahwa sebuah struktur organisasi
kapanpun adalah merupakan hasil pilihan oleh mereka yang memiliki kekuasaan
sampai tingkat maksimum tertentu akan berusaha mempertahankan dan meningkatkan
control mereka.
Oleh karena itu, dalam melaksanakan
pemikiran diatas, diperlukan pemikiran sebagai langkah penggerak dari kekuatan
kebiasaan pikiran bahwa apa yang diungkapkan dibawah ini merupakan pemikiran
dalam merancang suatu struktur formal sebagai langkah-langkah dalam
menggerakkan kekuatan pikiran sebagai pendorong sebagai berikut :
Pondasi meletakkan bagaimana
fungsi-fungsi organisasi :
1) Pondasi dalam meletakkan bagaimana
fungsi-fungsi organisasi. Dalam hal ini yang perlu mendapatkan perhatian
mengenai mekanisme koordinasi yang disebut dengan mutual adjustment, direct
supervision, standardization of work processes, standardization of outputs,
standardization of skills.
2) Merumuskan bagian-bagian dasar dalam
organisasi kedalam apa yang disebut the operating core (para pegawai yang
melaksanakan pekerjaan dasar yang berhungan dengan produki dari produk dan
jasa), the strategic apex (manajer tingkat puncak, yang diberi tanggung jawab
keseluruhan untuk organisasi itu), the technostructure (para analis yang
mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan bentuk standarisasi tertentu dalam
organisasi), the support staff (orang-orang yang mengisi unit staf yang
memberikan jasa pendukung tidak langsung kepada organisasi)
3) Merumuskan organisasi sebagai suatu
sistem alur, apa yang disebut dengan organisasi sebagai suatu sistim kekuasaan
formal, organisasi sebagai sistim alur pengaturan, organisasi sebagai suatu
sistim komunikasi informal, organisasi sebagai suatu sistim konstilasi kerja,
organisasi sebagai sistim adhoc proses keputusan.
Analisis terhadap rancangan parameter :
Suatu rancangan structural dimulai untuk
menanggapi issu-issu dasar yang berkaitan seperti pertanyaan 1) Berapa banyak
tugas-tugas seharusnya dimasukkan pada posisi dalam organisasi dan bagaimana
spesialisasi pada tiap tugas diadakan ? ; 2) Seberapa luas makna kerja pada
tiap posisi distandarisasi ? ; 3) Keterampilan dan pengetahuan apa yang
seharusnya diperlukan pada tiap posisi ? ; 4) Atas dasar apa seharusnya
posisi-posisi dikelompokkan kedalam unit dan unit-unit kedalam unit yang lebih
besar ? ; 5) Seberapa besar seharusnya keberadaan tiap unit, berapa banyak
individual seharusnya melapor kepada manajer yang ditetapkan ? 6) Mekanisme apa
seharusnya didirikan untuk menghubungkan penyesuaian kebersamaan diantara
posisi-posisi dan unut-unit ? 7) Seberapa jauh kekuasaan pembuatan keputusan
seharusnya dideligasikan kepada unit-unit lini manajer kebawah rantai
kewibawaan ? 8)Seberapa jauh kekuasaan keputusan seharusnya melewati dari
manajer lini kepada spesialis staff dan operator ?
Analisis faktor-faktor kontengensi :
Struktur organisasi yang effektif akan
menunjukkan hubungan antara struktur dengan prestasi berdasarkan hasil
studi-studi yang menyimpulkan dalam dua hiphotesa yaitu pertama hiphotesa
keharmonisan artinya struktur yang effektif memecahkan suatu hubungan yang baik
antara faktor-faktor kontingensi dan rancangan parameter-parameter atau dengan
kata lain keberhasilan mendasain organisasi dimana strukturnya sesuai dengan
situasinya. Kedua apa yang disebut dengan hiphotesa konfigurasi artinya
struktur yang effektif memerlukan konsisten internal diantara rancangan
parametr-parameter.
Alur dari situasi ke struktur dan dari
faktor kontengensi ke rancangan parameter, maka dismpulkan variable-variabel
independent, intermediate dan dependent dengan ulasan sebagai berikut :
Independent (contingency) variables
mencakup :
1) Pengaruh umur dan ukuran kedalam apa
yang disebut dengan hiphotesa pertama organisasi yang lebih tua, lebih
diformalisasikan perilakunya ; kedua struktur merefleksi umur yang melahirkan
industri ; ketiga organisasi yang iversifikasi, kecenderungan tugasnya, lebih
diferensiasi unit-unitnya dan lebih dikembangkan komponen administrasinya ;
keempat, organisasi lebih besar, lebih besar size rata-rata unitnya ;
kelimaorganisasi yang lebih besar, lebih diformulasikan perilakunya.
2) Sistem teknis bahwa teknologi
merupakan faktor yang besar pengaruhnya dalam merancang struktur organisasi.
Teknologi merujuk kepada informasi, peralatan, teknik dan proses yang
dibutuhkan untuk mengubah masukan menjadi keluaran.
3) Lingkungan, yang dimaksudkan disini
adalah segala sesuatu yang berada di luar organisasi bisa berbentuk
barang-barang, kondisi-kondisi atau pengaruh-pengaruh. Dimensi lingkungan dapat
menunjukkan dari keadaan stabil menjadi dinamik, dari sederhana menjadi
komplek, dari intergrasi menjadi diversifikasi, dari bersama menjadi
berlawanan. Lebih lanjut dapat dilukiskan bahwa pertama, lebih dinamik
lingkungan, lebih organic struktur ; kedua, lingkungan yang lebih komplek
struktur lebih disentralisasi ; ketiga, organisasi pasar yang lebih
diversifikasi, kecenderungan lebih besar dan ekstrim dalam lingkungannya
mendorong tiap organisasi menjadi sentralisasi strukturnya sementara ;
kelima,disparitas dalam lingkungan endorong organisasi menjadi disentralisasi
secara seelektif menjadi konstilasi kerja yang diverensiasi.
Jadi terdapat empat dasar lingkungan
yang berhubungan dengan organisasi akan menggambarkan bahwa 1) Komplek dan
stabil menggambarkan disentralis birokratik (standarisasi keterampilan) ; 2)
Komplek dan dinamik menggambarkan disentralis organic (penyesuaian bersama) ;
3) Sederhana dan stabil menggambarkan sentral birokratik (standarisasi proses
kerja) ; 4) Sederhana dan dinaik menggambarkan sentral organic (supervise
langsung).
4) Kekuasaan, dalam hal ini dasar
pemikiran bahwa merancang struktur harus memperhatikan kekuasan kedalam pikiran
sebagai penggerak dengan dasar pemikiran :
Pertama, control eksternal yang lebih
besar dari organisasi, strukturnya lebih sentralisasi dan diformulasikan.
Sejalan dengan itu akan terdapat dampak bahwa disatu sisi akan menunjukkan
keterakitan antara keputusan yang diambil oleh pimpinan puncak dengan
tindakannya dan disisi lain menekankan kejelasan perumusan standard mengenai
hal tersebut (keputusan dan tindakan) ;
Kedua, kekuasaan memerlukan dari para
anggota menciptakan struktur sentralisasi yang tidak berlebihan. Sejalan dengan
itu kepada anggota untuk menjaga agar kekuasaan sejalan dengan tindakan yang
harus dapat dipertanggung jawabkannya.
Ketiga, struktur yang dapat
dipertanggung jawabkan pada suatu ketika kadang-kadang menunjukkan keadaan yang
tidak memuaskan artinya suatu struktur bisa saja diterima oleh satu pihak dan
belum tentu bisa diterima oleh pihak lainnya.
Konfigurasi Struktural :
Dengan memperhatikan fungsi-fungsi
organisasi, analisis disain parameter-parameter analisis faktor –faktor
kontigensi, maka konfigurasi structural yang pada umumnya dan banyak digunakan,
apa yang disebut dengan 1) Struktural sederhana ; 2) Birokrasi mesin ; 3)
Birokrasi professional ; 4) Struktural divisional ; 5) Adhocracy.
Struktur Sederhana :
Struktur ini dipergunakan pada permulaan
dimana organisasi masih kecil, berada pada lingkungan yang sederhana dan
dinamis sehingga dapat dikatakan memasuki tahap prmulaan perkembangan dan
biasanya pemilik atau pendiri ingin agar kekuasaan masih disentralisasi sehingga
seluruh kekuasaan dalam pengambilan keputusan atas seluruh tindakan berada
dalam tangannya.
Birokrasi Mesin :
Ini menunjukkan organisasi menjadi besar
tapi dengan lingkungan yang sederhana dan stabil sehingga memperlihatkan
teknologi yang terdiri atas pekerjaan yang rutin dan distandarisasi, maka tidak
heran peraturan yang sangat diformalisasi, tugas dikelompokkan ke dalam
departemen-departemen fungsional, wewenang yang disntralisasi, pengambilan
keputusan yang mengkuti rantai komando dan sebuah struktur administrasi yang
rumit dengan perbedaan tajam antara aktivitas lini dan staf.
Birokrasi Profesional :
Birokrasi professional merupakan suatu
truktur yang memberikan kesempatan dalam organisasi untuk memanfaatkan tenaga
spesialis yang sangat terlatih bagi operating core-nya agar dapat meningkatkan
effesiensi dan standarisasi dengan desentralisasi. Jadi model ini sebenarnya
merupakan birokrasi mesin untuk organisasi dengan ukuran besar, lingkungan yan
stabil dan komplek dan teknologi rutin yang diinternalkan lewat
profesionalisme.
Struktural Divisional :
Pada dasarnya banyak kesamaannya dengan
birokrasi mesin, dimana struktur dengan strateginya yang menekankan pada
keanekaragaman dari produk dan pasar sehingga divisi-divisi tersebut cenderung
untuk diorganisasi k dalam kelompok fungsional dengan pembagian kerja yang
tinggi, formalisasi yang tinggi dan wewenang yang disentralisasikan pada
manajer divisi. Jadi divisionalisasi hanya mungkin jika sistim teknis dari
organisasi dapat dipisahkan secara effesien kedalam segmen-segmen yang terpisah
dengan lingkungan tidak komplek dan tidak dinamis.
PILIHAN, KEPUTUSAN DAN MODEL
Dengan memperhatikan pokok-pokok pikiran
yang telah kita ungkapkan pada bagian terdahulu, maka pilihan, keputusan dan
model dari pemahaman model struktur formal yang ada (organisasi staff, garis,
fungsional, staff dan garis, garis dan fungsional, fungsional dan staff,garis,
fungsional dan staff, panitia)dan banyak diterapkan dalam praktek
memperlihatkan gambaran keuntungan dan kelemahan dari masing-masing model
struktur tersebut menjadi kekuatan untuk mendalami dan memanfaati atas
pengembangan dari struktur addocracy yang dipahami, dihayati dan diamalkan
menjadi suatu kenyataan yang jarang dimanfaatkan dalam praktek.
Sejalan dengan pemikiran diatas, maka
kenyataan gambaran dari model struktur tersebut diterapkan tidak mampu
mewujudkan kedalam kondisi yang disebut dengan fleksibilitas dan mudah di
kontrol, oleh karna itu diperlukan pendalaman untuk merancang hubungan-hubungan
yang bersifat lateral dengan kelengkapan alat-alat untuk menyelesaikan
kontak-kontak penghubung diantara para individu, maka alat tersebut dapat
dimasukkan kedalam struktur formal dengan penjelasan sebagai berikut :
Alat-alat tersebut dapat dibentuk apa
yang dinamakan posisi-posisi penghubung, satuan tugas dan komite khusus,
intergrasi para manajer dan struktur matrix.
Posisi-posisi penghubung :
Posisi ini tidak memiliki kekuasaan
formal tetapi komunikasi yang dibentuknya dapat mempengaruhi atas unit satu ke
unit lainnya sebagai media komunikasi sehingga perlu diperhitungkan keberadaan
kekuatan informalnya, dan tidak jarang ia dapat melewati jalur vertical dalam
mempertemukan kepentingan antara dua unit. Posisi-posisi penghubung lainnya
dapat pula terjadi bergabung dalam kelompok-kelompok staf dan lini yang ada
dalam suatu struktur formal.
Satuan tugas dan komite khusus :
Satuan tugas dibentuk bukanlah bersifat
permanen, ia terbentuk merupakan satuan yang bertugas untuk menghadapi suatu
pekerjaan yang memerlukan penyelesaian mendesak, jadi sifatnya sementara pada
struktur fungsional yang dipergunakan. Sebaliknya komite khusus menggambarkan
pengelompokan interdepartemental yang sifatnya lebih permanen sebagai alat
penghubung karena secara reguler pertemuan yang diadakan lebih menekankan
diskusi yang menyangkut issu-issu kepentingan umum.
Intergrasi para manajer :
Terjadi bila banyak koordinasi
berdasarkan penyesuaian kebersamaan, maka diperlukan apa yang disebut
intergrasi para manajer sebagai alat penghubung dari bentuk yang sebelumnya
telah diutrakan diatas. Walaupun kekuatan formal yang ada pada intergrasi para
manajer sebagai alat penghubung dapat melewati mempengaruhi departemental yang
berkaitan aspek proses keputusan tidaklah berarti ia memiliki suatu kekuasaan
formal.
Melaksanakan pekerjaan dari intergrasi
para manajer bukanlah sesuatu yang mudah, kesilitan yang utama menyangkut
mempengaruhi perilaku individual adalah sesuatu yang tidak berlandaskan kepada
kekuasaan formal karena itu, ia terlibat dalam proses keputusan tapi tidak
dalam pngambilan keputusan itu sendiri.
Struktur-struktur matrix :
Interdepedensi merupakan faktor yang
sangat sulit diselesaikan dari berbagai basis dasar dalam pengelompokan.
Pemecahan masalah tersebut dapat ditempuh dengan konsep struktur yang
berjenjang, konsep struktur staff dan lini dan terkait dengan konsep alat-alat
penghubung. Diantara alat penghubung yang telah diuraikan diatas, maka struktur
matrix sebagai cara yang lebih mendekati cara untuk menyelesaikan dari alat-alat
penghubung yang lainnya.
Struktur matrix merupakan pendekatan
yang dapat menghilangkan apa yang disebut dengan prinsip dari kesatuan komando
yaitu dengan cara ini, maka masalah yang berkaitan dengan interdepedensi dapat
diselesaikan dengan menciptakan apa yang disebut dengan keseimbangan kekuatan
formal dimana melalui pembentukan struktur matrix yang dapat berbentuk permanen
dan atau berbentuk yang bergerak.
Bentuk permanen bila tingkat
interdepedensi kurang lebih stabil yang menunjukkan hasil dan apa yang
dikerjakan unit dan orang yang berada didalamnya. Sedangkan bentuk yang
bergerak dipergunakan untuk kerja proyek. Akhirnya bentuk struktur matrix,
kelihatannya menjadi alat lebih efektif untuk pengembangan aktivitas-aktivitas
baru dan untuk koordinasi yang komplek dengan tintingkat interdepedensi yang
beragam.
PENUTUP
Faktor kunci organisasi dalam strategi
daur hidup organisasi, bila dipandang dari sudut abstrak yang menggambarkan
sebagai alat untuk mewujudkan keputusan strategik dan menjadi sesuatu yang
konkrit dengan digerakkan oleh sumber daya manusia yang ada.
Pilihan dan keputusan yang harus mampu
digerakkan oleh peran kepemimpinan adalah mendorong untuk meningkatkan daya
kemauan agar mampu setiap pemain peran agar memiliki kemampuan untuk mengelola
hal-hal yang terkait dengan apa yang disebut dengan :
1) perubahan lingkungan ;
2) perubahan organisasi ;
3) perubahan yang diakibatkan adanya
konflik ;
4) perubahan budaya organisasi ;
5) perubahan dalam evaluasi organisasi.
Dengan meningkatkan kemampuan mengelola
hal-hal yang disebut diatas berarti adanya daya kemauan peran kepemimpinan
untuk mendorong dalam :
1) menghilhamkan kekuatan pikiran
kedalam wawasan bersama ;
2) membentuk kebiasaan pikiran agar
setiap pemain peran berani membuat keputusan bertindak ;
3) menjadi penunjuk jalan ;
4) mendorong atas pemberdayaan kekuatan
berpikir yang metodis dan non-metodis
ORGANISASI PERTANDINGAN
Definisi :
Organisasi pertandingan merupakan
komponen yang terlibat secara langsung atau tidak langsung untuk dapat bersama
– sama mewujudkan atau mencapai tujuan pertandingan.
Sistem pertandingan
Sistem pertandingan pada hakekatnya
merencanakan dan dilanjutkan dengan melaksanakan suatu kegiatan pertandingan
berkaitan dengan jumlah peserta, waktu yang tersedia, tujuan pertandingan dan
anggaran
Bagan Pertandingan
Umumnya bagan pertandingan dibagi menjadi
dua macam yaitu :
Sistem gugur
a. gugur tunggal ( peserta yang telah
kalah satu kali tidak punya kesempatan untuk melakukan pertandingan kembali )
b. gugur ganda ( peserta yang telah
kalah satu kali masih memiliki kesempatan bertanding kembali sampai dengan
gugur dua kali )
kompetisisi
a. Setengah Kompetisi ( system
pertandingan ini mengharuskan semua peserta bertemu satu kali dalam
pertandingan/saling bertemu)
b. Kompetisi Penuh / Home and A way (
system pertandingan yang mengharuskan setiap peserta bertemu dua kali dalam
pertandingan )





1 Responses to “Organisasi dan Sistem Pertandingan”
Menangkan Jutaan Rupiah dan Dapatkan Jackpot Hingga Puluhan Juta Dengan Bermain di www(.)SmsQQ(.)com
18 January 2019 at 18:35Kelebihan dari Agen Judi Online SmsQQ :
-Situs Aman dan Terpercaya.
- Minimal Deposit Hanya Rp.10.000
- Proses Setor Dana & Tarik Dana Akan Diproses Dengan Cepat (Jika Tidak Ada Gangguan).
- Bonus Turnover 0.3%-0.5% (Disetiap Harinya)
- Bonus Refferal 20% (Seumur Hidup)
-Pelayanan Ramah dan Sopan.Customer Service Online 24 Jam.
- 4 Bank Lokal Tersedia : BCA-MANDIRI-BNI-BRI
8 Permainan Dalam 1 ID :
Poker - BandarQ - DominoQQ - Capsa Susun - AduQ - Sakong - Bandar Poker - Bandar66
Info Lebih Lanjut Hubungi Kami di :
BBM: 2AD05265
WA: +855968010699
Skype: smsqqcom@gmail.com
Post a Comment