INTERAKSI BELAJAR
MENGAJAR
Dalam proses
pembelajaran antara pendidik dan peserta didik harus ada interaksi. Pendidikan
pada dasarnya merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik, untuk
mencapai tujuan pendidikan, yang berlangsung dalam lingkungan tertentu.
Lingkungan ini diatur serta diawasi agar kegiatan belajar terarah sesuai dengan
tujuan pendidikan. Pendidikan berfungsi membantu peserta didik dalam
pengembangan dirinya, yaitu pengembangan semua potensi, kecakapan, serta
karakteristik pribadinya ke arah yang positif, baik bagi dirinya maupun
lingkungannya.
fungsi dari tujuan pengajaran:
1.
Menjadi titik sentral perhatian dan pedoman dalam melaksanakan aktivitan/
interaksi belajar mengajar.
2.
Menjadi penentu arah kegiatan
3.
Menjadi titik sentral perhatian dan pedoman dalam menyusun desain
pengajaran
4.
Menjadi materi pokok yang akan dikembangkan dalam memperdalam dan
mempeluasruang lingkupnya.
5.
Menjadi pedoman untuk mencegah/menghindari penyimpangan yang akan terjadi.
Interaksi terdiri dari
kata inter (antar), dan aksi (kegiatan). Jadi interaksi adalah kegiatan timbal
balik. Dari segi terminologi “interaksi” mempunyai arti hal saling melakukan
aksi; berhubungan; mempengaruhi; antar hubungan. Interaksi akan selalu
berkait dengan istilah komunikasi atau hubungan. Sedang “komunikasi” berpangkal pada
perkataan “communicare”
yang berpartisipasi, memberitahukan, menjadi milik bersama. Menurut
Wikipedia bahasa Indonesia, Interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi
yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu
sama lain. Jadi, interaksi belajar mengajar adalah kegiatan timbal balik
antara guru dengan anak didik, atau dengan kata lain bahwa interaksi belajar
mengajar adalah suatu kegiatan sosial, karena antara anak didik dengan temannya,
antara si anak didik dengan gurunya ada suatu komunikasi sosial atau pergaulan.
Roestilah (1994 : 35 ) mengemukakan bahwa “interaksi yaitu
proses dua arah yang mengandung tindakan atau perbuatan komunikator maupun
komunikan”. Berarti interaksi dapat terjadi antar pihak jika pihak yang terlibat
saling memberikan aksi dan reaksi. Suhubungan dengan itu interaksi adalah
proses saling mengambil peran. Zahra ( 1996 :91 ) mengemukan bahwa “Interaksi merupakan
kegiatan timbal balik. Interaksi belajar mengajar berarti suatu
kegiatan social karena antara peserta didik dan gurunya ada suatu
komunikasi sosial atau pergaulan”. Menurut Homans (Ali, 2004: 87) mendefisikan
interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu aktivitas yang dilakukan
oleh seseorang terhadap individu lain diberi ganjaran atau hukuman dengan
menggunakan suatu tindakan oleh individu lain yang menjadi pasangannya.
Menurut Sardiman (1986:8)” interaksi yang dikatakan dengan iteraksi
pendidikan apabila secara sadar mempunya tujuan untuk mendidik, untuk
mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan”. Sedangkan menurut Soetomo, bahwa interaksi
belajar mengajar ialah hubungan timbal balik antara guru (pengajar) dan anak
(murid) yang harus menunjukkan adanya hubungan yang bersifat edukatif
(mendidik). Di mana interaksi itu harus diarahkan pada suatu tujuan
tertentu yang bersifat mendidik, yaitu adanya perubahan tingkah laku anak didik
ke arah kedewasaan.
Macam-macam interaksi dalam pembelajaran :
Menurut Nana Sudjana, ada tiga pola
komunikasi dalam proses interaksi guru-siswa, yakni komunikasi sebagai aksi,
interaksi dan transaksi.
a. Komunikasi
sebagai aksi atau komunikasi satu arah
Yaitu guru sebagai pemberi aksi dan
siswa sebagai penerima aksi. Guru aktif, siswa pasif, mengajar dipandang
sebagai kegiatan menyampaikan bahan pelajaran.
b. Komunikasi
sebagai interaksi atau komunikasi dua arah
Yaitu guru bisa berperan sebagai pemberi
aksi atau penerima aksi. Sebaliknya siswa, bisa penerima aksi bisa pula pemberi
aksi. Dialog akan terjadi antara guru dengan siswa.
c. Komunikasi
sebagai transaksi atau komunikasi banyak arah
Yaitu komunikasi tidak hanya terjadi
antara guru dengan siswa, tetapi juga antara siswa dengan siswa. Siswa dituntut
aktif dari pada guru. Siswa, seperti halnya guru, dapat berfungsi sebagai
sumber belajar bagi siswa lain.
Situasi pengajaran
atau proses interaksi belajar mengajar bisa terjadi dalam berbagai pola
komunikasi di atas, akan tetapi komunikasi sebagai transaksi yang dianggap
sesuai dengan konsep cara belajar siswa aktif (CBSA) sebagaimana yang
dikehendaki para ahli dalam pendidikan modern.
sedangkan menurut Profesor Djaali ada
empat interaksi pendidikan yaitu :
(1) Interaksi murid dengan murid
(2) Interaksi murid dengan guru
(3) Interaksi murid dengan sumber
belajar, dan
(4) Interaksi murid dengan lingkungan.
Pola arus interaksi
guru-siswa di kelas memiliki berbagai kemungkinan arus komunikasi. Sedikitnya
menurut Heinich ada empat pola arus komunikasi:
(1) komunikasi guru-siswa searah,
(2) komunikasi dua arah — arus bolak-balik–,
(3) komunikasi dua arah antara
guru-siswa dan siswa-siswa,
(4) komunikasi optimal total arah.
Dalam proses interaksi
antara guru dan siswa memiliki pola yang meliputi sebagai berikut:
1. Pola dasar interaksi
Dalam pola dasar
interaksi belum terlihat unsur pembelajaran yang meliputi unsur guru, isi
pembelajaran dan siswa yang semuanya belum ada yang mendominasi proses
interaksi dalam pembelajaran. Dijelaskan bahwa adakalanya guru mendominasi
proses interaksi, adakalanya isi yang lebih mendominasi, adakalanya juga siswa
yang mendominasi interaksi tersebut atau bahkan adakalanya antara guru dan
siswanya secara seimbang saling mendominasi.
2. Pola interaksi berpusat
pada isi
Dalam proses
pembelajaran terdapat kegiatan guru mengajarkan isi pembelajaran disatu sisi
dan siswa mempelajari isi pembelajaran tersebut disisi lain, namun kegiatan
tersebut masih berpusat pada isi/materi pembelajaran.
3. Pola interaksi berpusat
pada guru
Pada pembelajaran yang
kegiatannya semata-mata bepusat pada guru, pada umumnya terjadi proses yang
bersifat penyajian atau penyampaian isi atau materi pembelajaran. Dalam praktik
pembelajaran semacam ini, kegiatan sepenuhnya ada dipihak guru yang
bersangkutan, sedangkan siswa hanya menerima dan diberi pembelajaran yang
disebut juga siswa pasif.
4. Pola interaksi berpusat
pada siswa
Pada pembelajaran yang
kegiatannya semata-mata berpusat pada siswa, siswa merencanakan sendiri materi
pembelajaran apa yang akan dipelajari dan melaksanakan proses belajar dalam
mempelajari materi pembelajaran tersebut. Peran guru lebih banyak bersifat
permisif, yakni membolehkan setiap kegiatan yang dilakukan para siswa dalam
mempelajari apapun yang dikehendakinya.
Untuk meningkatkan
keaktifan proses pembelajaran ini, guru membuat perencanaan sebaik-baiknya dan
pelaksanaannya didasarkan atas rencana yang telah dibuat. Dengan cara semacam
ini, diharapkan hasil belajar lebih baik lagi sehingga terjadi keseimbangan
keaktifan baik dipihak guru maupun dipihak siswa.
Proses interaksi dalam
pembelajaran :
Dalam proses edukatif paling tidak
mengandung ciri-ciri antara lain :
1. Ada
tujuan yang ingin dicapai
2. Ada
bahan/pesan yang menjadi isi interaksi
3. Ada
pelajaran yang aktif mengalami
4. Ada
guru yang melaksanakan
5. Ada
metode untuk mencapai tujuan
6. Ada
situasi yang memungkinkan proses belajar-mengajar berjalan dengan baik.
Adapun komponen-komponen tersebut
meliputi :
1. Tujuan
pendidikan dan pengajaran
2. Peserta
didik atau siswa
3. Tenaga
kependidikan khususnya guru,
4. Perencanaan
pengajaran sebagai suatu segmen kurikulum
5. Strategi
pembelajaran
6. Evaluasi
pengajaran.
Faktor-faktor yang mendasari terjadinya
interaksi edukatif adalah sebagai berikut.
· Faktor tujuan
· Faktor
bahan/materi/isi
· Faktor guru dan
peserta didik
· Faktor metode
· Faktor situasi
1. Faktor
Tujuan
Tujuan pendidikan/pengajaran yang
bersifat umum maupun khusus, umumnya berkisar pada tiga jenis :
· Tujuan kognitif,
tujuan yang berhubungan dengan pengertian dan pengetahuan
· Tujuan efektif, tujuan
yang berhubungan dengan usaha merubah minat, setiap nilai, dan alasan
· Tujuan psikomotorik,
tujuan yang berkaitan dengan keterampilann menggunakan telinga, tangan, mata,
alat indra, dan sebagainya.
Tiga syarat utama untuk terwujudnya interaksi
pengajaran yang edukatif, adalah:
· Merumusakan tujuan,
menyempitkan lapangan tujuan umum ke dalam bentuk yang tampak pada tingkah laku
peserta didik;
· Mengkhususkan tujuan;
· Memfungsional tujuan,
bahwa tujuan yang diharapkan nyata berguna bagi perkembangan peserta didik.
2. Faktor
Bahan Atau Materi Pengajaran
Penguasaan bahan oleh
guru seyogyanya mengarah pada spesifik/ takhasus atas ilmu kecakapan yang
diajarkanya. Mengingat isi, sifat, dan luasnya ilmu , maka guru harus mampu
menguraikan ilmu atau kecakapan dan apa-apa yang akan di ajarkanya kedalam
bidang ilmu atau kecakapan yang bersangkutan. Penyusunan unsure-unsur atau
informasi-informasi yang baik itu bukan saja untuk mempermudah peserta didik
untuk mempelajarinya, melainkan juga memberikan gambaran yang jelas sebagai
petunjuk dalam menetapkan metode pengajaran.
Isi bahan pengajaran
itu luas sekali dan berbeda dalam tinggi rendah serta sukar mudahnya. Macamnya
pun banyak. Karenanya , sebelum menentukan bahan study pengajaran yang akan di
pelajari oleh peserta didik perlu di adakan pilihan terlebih dahulu. Pilihan
itu biasanya berdasarkan pada pedoman –pedoman tertentu agar keseluruhan bahan
yang telah di tentukan itu teratur dan mencerminkan suatu hal yang integral
bagi hidup peserta didik selama di sekolah sekarang, dan sesudahnya. Yang
menentukan pedoman tersebut ialah pihak Depdikbud, isi pedoman
yang di maksud adalah disekitar kesesuaian bahan pengajaran dengan tujuan
institusional, tujuan kurukulum, tujuan pengajaran, serta tujuan pendidikan
pada umumnya dan haluan Negara . selain itu , bahan pengajaran pula harus
disesuaikan dengan tingkatan jenjang pendidikan, tahap perkembangan jiwa dan
jasmani peserta didik serta kebutuhan-kebutuhan yang ada pada mereka.
3. Faktor
Guru Dan Peserta Didik
Guru dan peserta didik
adalah dua subjek dalam berinteraksi pengajaran. Guru sebagai pihak yang
berinisiatif awal untuk penyelenggaraan pengajaran, sedankan peserta didik
sebagai pihak yang secara langsung mengalami dan mendapatkan manfaat dari peritiwa
belajar mengajar yang terjadi. Guru sebagai pengarah dan pembimbing berdasarkan
tujuan yang telah di tentukan, sedang peserta didik ialah sebagai yang menuju
pada arah tujuan melalui aktifitas dan berinteraksi langsung dengan lingkungan
sebagai sumber belajar atas bimbingan guru. Jadi kedua pihak ( guru dan peserta
didik) menunjukan sebagai dua subjek pengajaran yang sama-sama menempati status
yang penting.
Kemudian untuk
menjadikan perofesionalitas kerja guru setidaknya ia memiliki 4 bidang utama.
· Guru harus mengenal
setiap peserta didik yang dipercayakan kepadanya
· Guru harus memiliki
kecakapan member bimbingan, sebab mengajar hakekatnya membimbing.
· Guru harus memiliki
dasar penetahuan yang luas tentang tujuan pendidikan / pengajaran
· Guru harus memiliki
pengetahuan bulat dan baru mengenai ilmu yang di ajarkan.
4. Faktor
Metode
Metode adalah suatu
kata kerja yang sistematik dan umum. Ia berfungsi sebagai alat untuk mencapai
satu tujuan. Makin baik suatu metode makin efektif pula dalam pencapaianya.
Tetapi tidak ada satu metode pun yang di katakana paling baik/dipergunakan bagi
semua macam usaha pencapaian tujuan, baik tidaknya, tepat tidaknya satu metode
di pengaruhi oleh berbagai factor. Faktor utama yang menentukan metode adalah
tujuan yang akan dicapai.
Metode
mengajar/pengajaran, selain ditentukan/dipengaruhi oleh tujuan juga oleh factor
kesesuaian dengan bahan, kemampuan guru untuk menggunakannya, keadaan peserta
didik, dan situasi yang melingkupinya. Dengan kata lain, penerapan suatu metode
pengajaran harus memiliki:
· Relevansi dengan
tujuan
· Relevansi dengan bahan
· Relevansi dengan
kemampuan guru
· Relevansi dengan
keadaan peserta didik
· Relevansi dengan
situasi pengajaran.
Secara umum metode-metode pengajaran
dapat diklasifikasikan menjadi dua:
· Metode pengajaran
individual
· Metode pengajaran
kelompok/klasikal.
Adapun macam-macam metode itu
sesungguhnya tidak terbatas banyaknya sekadar mengenal sebagian metode, dibawah
ini penulis sebutkan sebagian dari banyak metode.
· Metode
ceramah/persentasi/kuliah mimbar
· Metode diskusi (dengan
segala jenisnya)
· Metode Tanya jawab
· Metode
resitasi/penugasan
· Metode experiment
· Metode proyek
· Metode karya wisata
· Metode-metode lainnya.
5. Faktor
Situasi
Yang dimaksud situasi
adalah suasana belajar atau suasana kelas pengajaran. Termasuk dalam pengertian
ini adalah suasana yang berkaitan dengan peserta didik, keadaan guru, keadaan
kelas-kelas pengajaran yang berdekatan yang mungkin mengganggu atau terganggu
karena penggunaan suatu metode. Terhadap situasi yang dapat diperhitungkan,
kita (guru) dapat menyediakan alternative metode-metode mengajar dengan
mengingat kemungkina-kemungkinan perubahan situasi. Situasi pengajaran yang
kondusif (mendukung) sangat menentukan dan bahkan menjadi salah satu indicator
terciptanya interaksi pengajaran, yang edukatif sifatnya.
Terhadap situasi yang
tidak dapat diperhitungkan yang disebabkan oleh perubahan secara tiba-tiba
diperlukan kecekatan untuk mengambil keputusan dengan segera mengenai
cara-cara/metode-metode yang akan digunakan. Ketrampilan berimprovisasi dan
kesigapan mengambil keputusan sungguh sangat diperlukan dalam situasi demikian.
Kita tidak boleh tertegun atau terhenti sehingga tidak ada usaha sedikitpun
untuk melaksanakan program dalam rangka mencapai tujuan, karena bukan saja akan
merusak seluruh rencana pengembangan program melainkan juga merusak
perkembangan peserta didik itu sendiri.
6. Faktor
sumber pelajaran
Sumber belajar
sesungguhnya banyak sekali. Pemanfaatan sumber-sumber pengajaran tersebut
tergantung pada kreativitas guru, waktu, biaya serta kebijakan-kebijakan
lainnya.
Interaksi edukatif
tidaklah berproses dalam kehampaan , tetapi ia berproses dalam kemaknaan.
Didalamnya ada sejumlah nilai yang disampaikan kepada anak didik . Nilai-nilai
itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi diambil dari berbagai sumber guna
dipakai dalam proses interaksi edukatif.
7. Faktor
alat dan peralatan
Alat dan peralatan
adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan
pembelajaran. Alat tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi juga sebagai pembantu
mempermudah usaha mencapai tujuan.
Alat dapat dibagi menjadi dua yaitu :
· Alat Nonmaterial, yang
terdiri dari suruhan , perintah , larangan, nasihat dan sebagainya
· Alat material,
yang dapat berupa globe, papan tulis, batu kapur, gambar, diagram,
lukisan, slide dan sebagainya
8. Faktor
evaluasi
Evaluasi adalah suatu
kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan data tentang sejauh mana keberhasilan
anak didik dalam belajar dan keberhasilan guru dalam mengajar. Evaluasi dapat
dilakukan oleh guru dengan memakai seperangkat istrumen penggali data seperti
tes perbuatan, tes tertulis dan tes lisan
Tujuan evaluasi sendiri untuk :
· Mengumpulkan data-data
yang membuktikan taraf kemajuan anak didik dalam mencapai tujuan yang
diharapkan.
· Memungkinkan guru
menilai aktifitas/pengalaman yang didapat dan menilai metode mengajar yang
dipergunakan.
Proses-proses pembelajaran (materi
pelajaran, metode dan teknik mengajar, sumber belajar).
Komponen-komponen Pembelajaran
Komponen-komponen
tersebut antara lain adalah tujuan pengajaran yang ingin dicapai, materi
pengajaran, metode pengajaran, media pengajaran, evaluasi, guru, siswa,
administrasi pengajaran, sarana dan prasarana pengajaran (Sudaryo, 1990 : 5).
a) Tujuan Pembelajaran
Tujuan merupakan salah
satu komponen pembelajaran yang dapat
mempengaruhi komponen pembelajaran lainnya seperti materi, metode, media, evaluasi, peserta didik, administrasi pengajaran, sarana dan prasarana. Semua komponen itu harus sesuai dan digunakan untuk mencapai tujuan seefektif dan seefisien mungkin. Jika salah satu komponen tidak sesuai dengan tujuan, maka kegiatan belajar mengajar tidak akan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa tujuan, karena dengan tujuan menentukan ke arah mana kegiatan akan dibawa. Sebagai unsur penting untuk suatu kegiatan, maka dalam kegiatan apapun tujuan tidak bisa diabaikan.
mempengaruhi komponen pembelajaran lainnya seperti materi, metode, media, evaluasi, peserta didik, administrasi pengajaran, sarana dan prasarana. Semua komponen itu harus sesuai dan digunakan untuk mencapai tujuan seefektif dan seefisien mungkin. Jika salah satu komponen tidak sesuai dengan tujuan, maka kegiatan belajar mengajar tidak akan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa tujuan, karena dengan tujuan menentukan ke arah mana kegiatan akan dibawa. Sebagai unsur penting untuk suatu kegiatan, maka dalam kegiatan apapun tujuan tidak bisa diabaikan.
b) Materi Pelajaran
Materi pelajaran
merupakan komponen pembelajaran yang selama ini
dipahami oleh sebagian guru adalah buku paket mata pelajaran yang diwajibkan untuk dimiliki oleh peserta didik. Sumber belajar yang terbatas itu tentunya akan mempengaruhi pembelajaran tekstual terbatas pada buku paket yang dimiliki. Materi pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar (Djamarah dan Zain, 2006: 43). Tanpa materi pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Guru yang akan mengajar pasti memiliki dan harus menguasai materi pelajaran yang akan disampaikan pada peserta didik. Biasanya aktivitas peserta didik akan berkurang bila bahan pelajaran yang diberikan guru kurang menarik perhatiannya. Materi pelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik karena akan memotivasi peserta didik untuk belajar. Maslow (dalam Djamarah dan Zain, 2006 : 44) mengatakan bahwa minat seseorang akan muncul bila sesuatu itu terkait dengan kebutuhannya. Sedangkan Rohani (2004 : 167) mengatakan bahwa materi pelajaran dapat diperoleh dari sumber belajar, dimana penggunaan sumber belajar yang bervariatif memiliki banyak kegunaan bagi peserta didik diantaranya: Memotivasi belajar siswa, Pencapaian tujuan pembelajaran, Mendukung Program pembelajaran (aktivitas belajar), Membantu memecahkan masalah, Mendukung pengajaran presentasi (pembelajaran yang mengaktifkan siswa).
dipahami oleh sebagian guru adalah buku paket mata pelajaran yang diwajibkan untuk dimiliki oleh peserta didik. Sumber belajar yang terbatas itu tentunya akan mempengaruhi pembelajaran tekstual terbatas pada buku paket yang dimiliki. Materi pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar (Djamarah dan Zain, 2006: 43). Tanpa materi pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Guru yang akan mengajar pasti memiliki dan harus menguasai materi pelajaran yang akan disampaikan pada peserta didik. Biasanya aktivitas peserta didik akan berkurang bila bahan pelajaran yang diberikan guru kurang menarik perhatiannya. Materi pelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik karena akan memotivasi peserta didik untuk belajar. Maslow (dalam Djamarah dan Zain, 2006 : 44) mengatakan bahwa minat seseorang akan muncul bila sesuatu itu terkait dengan kebutuhannya. Sedangkan Rohani (2004 : 167) mengatakan bahwa materi pelajaran dapat diperoleh dari sumber belajar, dimana penggunaan sumber belajar yang bervariatif memiliki banyak kegunaan bagi peserta didik diantaranya: Memotivasi belajar siswa, Pencapaian tujuan pembelajaran, Mendukung Program pembelajaran (aktivitas belajar), Membantu memecahkan masalah, Mendukung pengajaran presentasi (pembelajaran yang mengaktifkan siswa).
c) Metode Pembelajaran
Metode adalah suatu
cara kerja yang sistematik dan umum, berfungsi sebagai alat untuk mencapai
suatu tujuan (Rohani, 2004 : 118). Semakin baik suatu metode makin efektif pula dalam pencapaiannya.
Akan Tetapi tidak ada satupun metode yang paling baik bagi semua macam
pencapaian tujuan, karena dipengaruhi oleh berbagai faktor dan yang paling menentukan
adalah tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam menentukan metode
pembelajaran yang akan digunakan guru harus memperhatikan faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Adapun jenis metode-metode pembelajaran yang dapat digunakan
oleh guru adalah: Metode
Ceramah, Metode Tanya jawab, Metode Demonstrasi, Metode Experiment,Metode
Resitasi/ penugasan,Metode Drill/latihan, Metode Problem solving, Metode
Inquiry, Metode Teknik Klarifikasi Nilai, Metode Role Playing, Metode Simulasi,
Metode Karya wisata, Metode Kerja Kelompok, Metode Diskusi, dan Metode Proyek. Macam-macam metode
di atas dapat menjadi pilihan bagi guru, yang sebelumnya telah disesuaikan
dengan tujuan, peserta didik, situasi, fasilitas, dan kemampuan guru sendiri.
Sehingga kegiatan pembelajaran dapat optimal dan tujuan pendidikan dapat
dicapai.
d) Media Pembelajaran
Media pendidikan
menurut Santoso S Hamidjojo dalam Rumamouk
(1988 : 6) adalah media yang penggunaannya diintegrasikan dengan tujuan dan isi pengajaran, dimaksudkan untuk mempertinggi mutu kegiatan belajar mengajar. Hal tersebut biasanya sudah dituangkan dalam garis-garis besar tujuan pembelajaran.
(1988 : 6) adalah media yang penggunaannya diintegrasikan dengan tujuan dan isi pengajaran, dimaksudkan untuk mempertinggi mutu kegiatan belajar mengajar. Hal tersebut biasanya sudah dituangkan dalam garis-garis besar tujuan pembelajaran.
Danim (1994 : 12-13) mengemukakan
penggunaan media oleh guru dapat diperoleh beberapa manfaat yaitu :
1) Meningkatkan mutu pendidikan, di
mana dapat mempercepat dan membantu guru menggunakan waktu belajar dengan lebih
baik,
2) Pendidikan yang individual,
dengan mengurangi kontrol guru yang tradisional dan kaku, memberi kesempatan
luas kepada anak untuk berkembang menurut kemampuannya dan belajar sesuai cara
yang dikehendakinya;
3) Pengajaran lebih ilmiah, dengan
merencanakan program pengajaran yang logis, dan sistematis, serta mengembangkan
kegiatan pengajaran melalui penelitian,
4) Data lebih konkret;
5) Membawa dunia nyata ke dalam
kelas;
6) Penyajian pendidikan lebih luas.
e) Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi atau
penilaian dalam pembelajaran mutlak harus dilakukan oleh
guru, seperti yang dikemukakan oleh Rohani (2004: 168) bahwa penilaian
merupakan bagian integral dari pembelajaran itu sendiri, yang tidak terpisahkan dalam penyusunan dan pelaksanaan pembelajaran. Penilaian bertujuan menilai efektivitas dan efisiensi kegiatan pembelajaran sebagai bahan untuk perbaikan dan penyempurnaan program serta pelaksanaannya.
guru, seperti yang dikemukakan oleh Rohani (2004: 168) bahwa penilaian
merupakan bagian integral dari pembelajaran itu sendiri, yang tidak terpisahkan dalam penyusunan dan pelaksanaan pembelajaran. Penilaian bertujuan menilai efektivitas dan efisiensi kegiatan pembelajaran sebagai bahan untuk perbaikan dan penyempurnaan program serta pelaksanaannya.
Hambatan dalam interaksi pembelajaran
:
Kendala-kendala lain
yang mempengaruhi proses pembelajaran di dalam kelas antara lain adalah :
(1) perkiraan yang tidak tepat terhadap
inovasi
(2) konflik dan motivasi yang kurang
sehat
(3) lemahnya berbagai faktor penunjang
sehingga mengakibatkan tidak berkembangnya inovasi yang dihasilkan
(4) keuangan (financial) yang tidak
terpenuhi
(5) penolakan dari sekelompok tertentu
atas hasil inovasi, serta
(6) kurang adanya hubungan sosial dan
publikasi.
Masalah-Masalah internal belajar :
#Faktor intern yang dialami dan dihayati
oleh siswa yang berpengaruh para proses belajar siswa.
1) Faktor
Jasmaniah
a. Faktor
kesehatan
b. Cacat
Tubuh
2) Faktor
Psikologis
a. Inteligensi
b. Perhatian
c. Minat
d. Bakat
e. Motif
f. Kematangan
g. Rasa
percaya diri siswa
h. Kebiasaan
belajar
3) Faktor
Kelelahan
#Faktor-Faktor Ekstern Belajar yang
berpengaruh pada aktivitas belajar.
1) Guru
sebagai pembina siswa belajar
2) Prasarana
dan sarana pembelajaran
3) Kebijakan
Penilaian
4) Kurikulum
5) Metode
Mengajar
#Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya
Masalah Belajar
1) Faktor-faktor
internal, antara lain: Fisiologis & Psikologis
2) Faktor
eksternal, antara lain: Sekolah & Lingkungan.
#Masalah-masalah yang timbul didalam
pelaksanaan pengajaran dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1) Masalah
pengarahan
2) Masalah
evaluasi dan penilaian
3) Masalah
isi dan urut-urutan pelajaran
4) Masalah
metode dan sistem penyajian bahan pelajaran
5) Masalah
hambatan-hambatan





1 Responses to “IBM”
Menangkan Jutaan Rupiah dan Dapatkan Jackpot Hingga Puluhan Juta Dengan Bermain di www(.)SmsQQ(.)com
18 January 2019 at 18:30Kelebihan dari Agen Judi Online SmsQQ :
-Situs Aman dan Terpercaya.
- Minimal Deposit Hanya Rp.10.000
- Proses Setor Dana & Tarik Dana Akan Diproses Dengan Cepat (Jika Tidak Ada Gangguan).
- Bonus Turnover 0.3%-0.5% (Disetiap Harinya)
- Bonus Refferal 20% (Seumur Hidup)
-Pelayanan Ramah dan Sopan.Customer Service Online 24 Jam.
- 4 Bank Lokal Tersedia : BCA-MANDIRI-BNI-BRI
8 Permainan Dalam 1 ID :
Poker - BandarQ - DominoQQ - Capsa Susun - AduQ - Sakong - Bandar Poker - Bandar66
Info Lebih Lanjut Hubungi Kami di :
BBM: 2AD05265
WA: +855968010699
Skype: smsqqcom@gmail.com
Post a Comment