Psikologi (dari bahasa Yunani Kuno: psyche = jiwa
dan logos = kata) dalam arti bebas psikologia dalah ilmu yang
mempelajari tentang jiwa/mental. Psikologi tidak
mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena sifatnya
yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada
manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku
dan proses atau kegiatannya, sehingga Psikologi dapat didefinisikan
sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah
laku dan proses mental.
Psikologi adalah ilmu yang
tergolong muda (sekitar akhir 1800an.) Tetapi, manusia di sepanjangsejarah telah memperhatikan masalah
psikologi. Seperti filsuf yunani terutama Plato danAristoteles. Setelah itu St. Augustine (354-430)
dianggap tokoh besar dalam psikologi modern karena perhatiannya pada intropeksi
dan keingintahuannya tentang fenomena psikologi.Descartes (1596-1650) mengajukan teori bahwa hewan adalah mesin yang
dapat dipelajari sebagaimana mesin lainnya. Ia juga
memperkenalkan konsep kerja refleks. Banyak ahli filsafatterkenal lain dalam abad tujuh
belas dan delapan belas—Leibnits, Hobbes, Locke, Kant,
danHume—memberikan
sumbangan dalam bidang psikologi. Pada waktu itu psikologi masih berbentuk
wacana belum menjadi ilmu pengetahuan.
Diawali pada abad ke 19, dimana saat itu
berkembang 2 teori dalam menjelaskan tingkah laku, yaitu:
Psikologi Fakultas
Psikologi fakultas adalah doktrin abad
19 tentang adanya kekuatan mental bawaan, menurut teori ini, kemampuan
psikologi terkotak-kotak dalam beberapa ‘fakultas’ yang meliputi: berpikir,
merasa dan berkeinginan. Fakultas ini terbagi lagi menjadi beberapa
subfakultas: kita mengingat melalui subfakultas memori, pembayangan melalui subfakultas
imaginer, dan sebagainya.
Psikologi Asosiasi
Bagian dari psikologi kontemporer abad
19 yang mempercayai bahwa proses psikologi pada dasarnya adalah ‘asosiasi
ide.’ Dimana ide masuk melalui alat indera dan
diasosiasikan berdasarkan prinsip-prinsip tertentu seperti kemiripan, kontras,
dan kedekatan.
Dalam perkembangan ilmu psikologi
kemudian, ditandai dengan berdirinya laboratorium psikologi oleh Wundt (1879)
Pada saat itu pengkajian psikologi didasarkan atas metode ilmiah(eksperimental)
Juga mulai diperkenalkan metode intropeksi, eksperimen, dsb. Beberapa sejarah
yang patut dicatat antara lain:
·
F. Galton > merintis test psikologi.
·
Charles Darwin > memulai melakukan
komparasi dengan binatang.
·
A. Mesmer > merintis penggunaan hipnosis
·
Sigmund Freud > merintis psikoanalisa
Walaupun sejak dulu telah ada pemikiran
tentang ilmu yang mempelajari manusia dalam kurun waktu bersamaan dengan adanya
pemikiran tentang ilmu yang mempelajari alam, akan tetapi karena kekompleksan
dan kedinamisan manusia untuk dipahami, maka psikologi baru tercipta sebagai
ilmu sejak akhir 1800-an yaitu sewaktu Wilhem Wundt mendirikan
laboratorium psikologi pertama didunia.
Laboratorium Wundt
Pada tahun 1879 Wilhem
Wundt mendirikan laboratorium Psikologi pertama di University ofLeipzig, Jerman. Ditandai oleh berdirinya laboratorium ini, maka metode ilmiah untuk lebih mamahami manusia telah ditemukan walau tidak terlalu
memadai. dengan berdirinya laboratorium ini pula, lengkaplah syarat psikologi
untuk menjadi ilmu pengetahuan,
sehingga tahun berdirinya laboratorium Wundt diakui pula sebagai tanggal
berdirinya psikologi sebagai ilmu pengetahuan.
Berdirinya Aliran Psikoanalisa
Berdirinya Aliran Behavioris
Berdirinya Aliran Fenomenologis
Psikologi memiliki tiga fungsi sebagai
ilmu yaitu:
Menjelaskan
Yaitu mampu menjelaskan apa, bagaimana,
dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasilnya penjelasan berupa deskripsi atau
bahasan yang bersifat deskriptif.
Memprediksikan
Pengendalian
Yaitu mengendalikan tingkah laku sesuai
dengan yang diharapkan. Perwujudannya berupa tindakan yang
sifatnya prevensi atau
pencegahan, intervesi atau treatment sertarehabilitasi atau
perawatan.
Tingkah laku dapat dijelaskan dengan cara
yang berbeda-beda, dalam psikologi sedikitnya ada 5 cara pendekatan, yaitu
Tingkah laku manusia pada dasarnya
dikendalikan oleh aktivitas otak dan sistem syaraf. Pendekatan neurobiologis berupaya
mengaitkan perilaku yang terlihat dengan impuls listrik dankimia yang
terjadi didalam tubuh serta menentukan proses neurobiologi
yang mendasari perilaku dan proses mental.
Menurut pendekatan perilaku, pada dasarnya tingkah laku
adalah respon atas stimulus yang datang. Secara sederhana
dapat digambarkan dalam model S - R atau suatu kaitan Stimulus - Respon. Ini
berarti tingkah laku itu seperti reflek tanpa kerja mental sama sekali.
Pendekatan ini dipelopori oleh J.B. Watson kemudian
dikembangkan oleh banyak ahli, seperti B.F.Skinner,
dan melahirkan banyak sub-aliran.
Pendekatan kognitif menekankan
bahwa tingkah laku adalah proses mental, dimana individu(organisme)
aktif dalam menangkap, menilai, membandingkan, dan menanggapi stimulus sebelum
melakukan reaksi. Individu menerima stimulus lalu melakukan proses mental
sebelum memberikan reaksi atas stimulus yang datang.
Pendekatan psikoanalisa dikembangkan
oleh Sigmund Freud.
Ia meyakini bahwa kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar.
Sehingga tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti
keinginan, impuls, atau dorongan.
Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar
dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.
Pendekatan fenomenologi ini
lebih memperhatikan pada pengalaman subyektif individu
karena itu tingkah laku sangat dipengaruhi oleh pandangan individu terhadap
diri dan dunianya, konsep tentang dirinya, harga dirinya dan segala hal yang
menyangkut kesadaran atau aktualisasi dirinya. Ini berarti melihat tingkah
laku seseorang selalu dikaitkan dengan fenomena tentang dirinya.
Psikologi adalah ilmu yang luas dan
ambisius, dilengkapi oleh biologi dan ilmu saraf pada
perbatasannya dengan ilmu alam dan
dilengkapi oleh sosiologi dan anthropologi pada
perbatasannya dengan ilmu sosial. Beberapa
kajian ilmu psikologi diantaranya adalah:
Adalah bidang studi psikologi yang
mempelajari perkembangan manusia dan faktor-faktor yang membentuk prilaku
seseorang sejak lahir sampai lanjut usia.
Psikologi perkembangan berkaitan erat dengan psikologi
sosial, karena sebagian besar perkembangan terjadi dalam konteks
adanyainteraksi sosial. Dan juga berkaitan erat dengan psikologi
kepribadian, karena perkembangan individu dapat membentuk kepribadian khas
dari individu tersebut.
bidang ini mempunyai 3 ruang lingkup,
yaitu :
2. studi tentang proses-proses individual bersama, seperti bahasa, sikap sosial, perilaku
meniru dan lain-lain
3. studi tentang interaksi kelompok, misalnya: kepemimpinan, komunikasi hubungan kekuasaan, kerjasama dalam
kelompok, persaingan, konflik
Adalah bidang studi psikologi yang
mempelajari tingkah laku manusia dalam menyesuaikan
diridengan lingkungannya, psikologi kepribadian berkaitan erat dengan psikologi perkembangandan psikologi
sosial, karena kepribadian adalah
hasil dari perkembangan individu sejak masih kecil dan bagaimana cara individu
itu sendiri dalam berinteraksi sosial dengan lingkungannya.
Adalah bidang studi psikologi yang
mempelajari kemampuan kognisi, seperti: Persepsi, prosesbelajar, kemampuan memori, atensi, kemampuan bahasa dan emosi.
Wilayah terapan psikologi adalah
wilayah-wilayah dimana kajian psikologi
dapat diterapkan. walaupun demikian, belum terbiasanya orang-orang Indonesia dengan spesialisasi membuat wilayah terapan
ini rancu,
misalnya, seorang ahli psikologi pendidikan mungkin saja bekerja pada HRD sebuah perusahaan, atau sebaliknya.
Psikologi pendidikan adalah perkembangan
dari psikologi perkembangan dan psikologi
sosial, sehingga hampir sebagian besar teori-teori dalam psikologi
perkembangan dan psikologi sosial digunakan di psikologi pendidikan. Psikologi
pendidikan mempelajari bagaimana manusia belajardalam setting pendidikan, keefektifan sebuah pengajaran,
cara mengajar, dan pengelolaan organisasi sekolah.
Psikologi sekolah berusaha menciptakan
situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik,
sosialisasi, dan emosi.
Psikologi industri memfokuskan
pada menggembangan, mengevaluasi dan memprediksi kinerjasuatu pekerjaan yang dikerjakan
oleh individu,
sedangkan psikologi
organisasi mempelajari bagaimana suatu organisasi memengaruhi dan berinteraksi
dengan anggota-anggotanya.
Adalah bidang studi psikologi dan juga
penerapan psikologi dalam memahami, mencegah dan memulihkan keadaan psikologis
individu ke ambang normal.
Banyak parapsikolog berkeras bahwa
parapsikologi adalah cabang dari psikologi, walaupun arus utama dalam psikologi
masih mengingkarinya. Parapsikologi mencakup studi tentang extra
sensory perception, psikokinesis, dan sebagainya. Bagi para pendukungnya,
parapsikologi dilihat sebagai bagian dari psikologi transpersonal. Penelitian
parapsikologi pada umumnya dilakukan di laboratorium sehingga parapsikolog
menganggap penelitian tersebut ilmiah.
Psikologi Bukan Ilmu Pengetahuan
Psikologi telah memiliki syarat untuk
dapat berdiri sendiri sebagai ilmu pengetahuan terlepas dari Filsafat. (Syarat Ilmu Pengetahuan:
Memiliki objek (Tingkah laku), memiliki metode penelitian (sejak laboratorium
Wundt didirikan psikologi telah membuktikan memiliki metode ilmiah),
sistematis,dan bersifat universal.
Salah penggolongan
Terjebak dengan kata Psikotes
Psikologi bukan hanya psikotes, tetapi
inilah bagian dari psikologi yang paling populerdi masyarakat. Banyak kalangan yang sinis dengan
psikologi karena psikotes,
bagaimana psikolog dapat memvonis potensi seseorang
dengan hanya serangkaian tes. Sesungguhnya masih banyak metode lain
yang dapat digunakan, akan tetapi seringkali metode ini dipilih untuk alasan
efisiensi.
Psikologi melakukan dehumanisasi
Kebalikannya, psikologi memandang
setiap individu adalah
unik, bahkan psikotes dilakukan untuk lebih memahami keunikan dari setiap
individu. Justru, kalangan yang menyamaratakan setiap individu secara tidak
langsung memvonis manusia adalah robot (dehumanisasi)
yang tidak memiliki keunikan satu sama lainnya.
PSIKOLOGI OLAHRAGA
Psikologi olahraga
pertama kali dikenalkan oleh Norman Triplett pada tahun 1898.
Norman Triplett menemukan bahwa waktu tempuh pembalap sepeda menjadi lebih
cepat jika mereka membalap di dalam sebuah tim atau berpasangan dibanding jika
membalap sendiri.
Baru tahun 1925
laboratorium psikologi olahraga pertama di Kawasan Amerika Utara berdiri.
Pendirinya adalah Coleman Griffith dari Universitas Illinois.
Griffith tertarik pada pengaruh faktor-faktor penampilan atletis seperti waktu
reaksi, kesadaran mental, ketegangan dan relaksasi otot serta kepribadian. Dia
lalu menerbitkan dua buah buku, The Psychology of Coaching (1926)-
buku pertama di dunia Psikologi Olahraga-dan The Psychology of
Athletes (1928).
Pada tahun yang
sama, di Eropa sebenarnya juga berdiri sebuah laboratorium Psikologi Olahraga
yang didirikan oleh A.Z Puni di Institute of Physical Culture
in Leningrad. Namun Laboratorium Psikologi Olahraga pertama di dunia sebenarnya
didirikan tahun 1920 oleh Carl Diem di Deutsce Sporthochschule
di Berlin, Jerman.
Setelah periode
tersebut psikologi olahraga mengalami kemandekan. Baru pada tahun 1960-an
psikologi olahraga kembali mulai berkembang. Perkembangan ini ditandai dengan
banyaknya lembaga-lembaga pendidikan membuka konsentrasi pengajaran pada
Psikologi Olahraga. Puncaknya adalah pembentukan International Society
of Sport Psychology (ISSP) oleh para ilmuan dari penjuru Eropa.
Kongres internasional pertama diadakan pada tahun yang sama di Roma, Italia.
Pada tahun 1966,
sekelompok psikolog olahraga berkumpul di Chicago untuk membicarakan
pembentukan semacam ikatan psikologi olahraga. Mereka kemudian
dikenal dengan nama North American Society of Sport Psychology and
Physical Activity (NASPSPA).
Journal Sekolah pertama yang
dipersembahkan untuk psikologi olahraga keluar tahun 1970 dengan nama The
International Journal of Sport Psychology. Kemudian diikuti oleh Journal
of Sport Psychology tahun 1979. Meningkatnya minat melakukan
penelitian dalam bidang psikologi olahraga di luar laboratorium memicu
pembentukan Advancement of Applied Sport Psychology (AAASP) pada
tahun 1985 dan lebih berfokus secara langsung pada psikologi terapan baik dalam
bidang kesehatan maupun dalam konteks olahraga.
Kini Psikologi Olahraga sudah mengalami
perkembangan yang sangat pesat. Kongres International Society of Sport
Psychology Conference Di Yunani tahun 2000 telah dihadiri lebih dari 700 peserta
yang berasal dari 70 negara. American Psychological Association pun telah
memasukkan psikologi olahraga dalam divisi mandiri yakni divisi 47.
Penerbitan dan
jurnal pun sudah sangat banyak. Beberapa penerbitan dan jurnal tersebut adalah
(a) International Journal of Sport Psychology (1970);
(b) Journal of Sport Psychology (1979) yang kemudian berubah
nama menjadi 1988 Journal of Sport and Exercise Psychology; NASPSPA
pada tahun 1988. penerbitan lain adalah The Sport Psychologist (1987)—sekarang, Journal
of Applied Sport Psychology (1989)— sekarang, serta The
Psychology of Sport and Exercise.
HAKEKAT PSIKOLOGI OLAHRAGA
Psikologi merupakan ilmu yang
mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya, mulai dari
perilaku sederhana sampai yang kompleks. Perilaku manusia ada yang disadari
maupun yang tidak disadari, dan perilaku yang ditampilkan seseorang dapat
bersumber dari luar ataupun dari dalam dirinya sendiri,
Ilmu psikologi diterapkan pula ke dalam
bidang olahraga yang dikenal sebagai psokologi olahraga. Penerapan psikologi
kedalam bidang olahraga ini adalah untuk membantu agar bakat olahraga yang ada
dalam diri seseorang dapat dikembangkan sebaik-baiknya tanpa ada hambatan dan
factor-faktor yang ada dalam kepribadiannya . Dengan kata lain, tujuan umum
dari psikologi olahraga adalah untuk membantu seseorang agar dapat menempilkan
prestasi optimal, yang lebih baik dari sebelumnya.
MENGAPA PSIKOLOGI OLAHRAGA DIPERLUKAN
Meningkatnya stress dalam pertandingan
dapat menyebabkan atlet bereaksi secara negative, baik dalam
hal fisik maupun psikis, sehingga sangat berpengaruh terhadap
penampilannya, akan sulit berkonsentrasi. Keadaan ini seringkali menyebabkan
para atlit tidak dapat menampilkan permainan terbaiknya. Sehingga para
pelatihpun sangat menaruh minat terhadap bidang ini, khususnya dalam
penegendalian emosi. Disisi lain atlit dapat berfikir mengapa mereka berlatih
dan apa yang ingin mereka capai, hal ini tentu memerlukan pendekatan
psikologis.
Hal penting lainnya bahwa setiap atlit
harus dipandang secara individual karena yang satu dengan lainnya akan sangat
berbeda, dan untuk membantu mengenal profil atlit dapat dilakukan suatu upaya
yang biasa dikenal dengan psikotest. Profil psikologis atlit
biasanya berupa gambaran secara umum, potensi intelektual, dan fungsi daya
fakir yang dihubungkan dengan olahraga. Profil atlit pada dasarnya tidak
berubah banyak dari wakut kewaktu. Beberapa aspek psikologi dapat diperbaiki
melalui latihan keterampilan yang terencana dan sistematis yang prosesnya sangat
tergantung dari komitmen atlit terhadap program tersebut.
ASPEK-ASPEK PSIKOLOGIS YANG BERPERAN DALAM OLAHRAGA
Berfikir Positif.
Berfikir positif perlu dibiasakan bukan
saja oleh atlit, tetapi pelatihpun sangat perlu, dengan pembiasaan ini
maka akan berpengaruh sangat baik untuk menumbuhkan rasa percaya diri,
meningkatkan motivasi dan menjalin kerjasama.
Motivasi.
Motivasi dapat dilihat sebagai suatu
proses dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu sebagai usaha
untuk mencapai tujuan tertentu, ditinjau dari fungsinya motivasi dapat
dibedakan antara motivasi yang berasal dari luar dan motivasi yang berasal dari
dalam diri. Motivasi yang baik tidak mendasarkan doronganya pada factor
ekstrinsik, tetapi motivasi yang sangat baik, kuat dan lebih lama menetap
adalah factor intrinsic yang mendasarkan pada keinginan pribadi yang lebih
mengutamakan pencapaian prestasi.
Emosi.
Bentuk-bentuk emosi dikenal sebagai
perasaan seperti senang, sedih, marah cemas, rasa takut dan sebagainya, hal
tersebut terdapat pada seiap orang, akan tetapi yang perlu diperhatikan
dalam hal ini adalah bagamana kita mengendalikan emosi tersebut agar tidak
merugikan penampilan baik saat berlatih maupun dalam bertanding, pelatih
harus mengetahui dengan jelas bagaimana gejolak emosi dari pada para atlit
yang dibinanya.
Gejolak emosi sangat berpengaruh pada
keseimbangan psikofisiologis,apabila terganggu akan timbul ekspresi gemeter,
sakit perut, kejang otot maupun hal-hal lain yang bias merubah penampilan
fisik. Untuk mengatasi hal ini perlu adanya komunikasi yang baik antara pelatih
dengan atlit.
RUANG LINGKUP
PSIKOLOGI OLAHRAGA
Seiring dengan semakin besarnya industri
olahraga, psikologi olahraga memegang peranan yang cukup signifikan. Dalam
olahraga prestasi, peran psikolog olahraga dominan dalam mendongkrak prestasi
para atlet. Misalnya dalam peningkatan motivasi, menghilangkan kecemasan,
stress. Selain itu, peran seperti proses penyembuhan emotional disorders yang
kerap di alami oleh para atlet profesional seperti anorexia, penggunaan obat
terlarang, agresifitas, persoalan atlet dengan lingkungan keluarga, penonton,
fans. Lihat yang sudah dilakukan oleh psikolog yang menangani Adriano, striker
Inter Milan, dalam proses pengembalian perfomanya.
Bidang lain yang menjadi wilayah kerja
psikologi olahraga adalah dalam konteks pelatihan. Di Eropa maupun Amerika,
psikolog olahraga sudah terlibat dalam proses pelatihan para atlet. Peran vital
pun dimainkan disini. Seorang psikolog menjadi partner bagi para pelatih dalam
rangka menciptakan metode pelatihan yang efektif. Tentu saja dengan bekal ilmu
psikologi. Perpaduan ilmu fisik manusia dengan ilmu psikis membuat pemahaman
terhadap manusia lebih komplet. Banyak metode pelatihan yang merupakan
sumbangan langsung dari dunia psikologi olahraga.
Selain dengan terjun langsung di
lapangan, psikologi olahraga juga memberi sumbangan melalui riset. Riset
tentang hubungan antara gerak tubuh dan konsep mental memberikan masukan bagi
pengembangan teknik kepelatihan maupun pengembangan cabang olahraga itu sendiri.
Di awal kemunculannya, psikologi
olahraga memang berperan untuk membantu menemukan teknik pelatihan yang efektif
dan efisien dalam mengembangkan kemampuan atletis para atlet. Penelitian
tentang waktu tempuh pembalap sepeda adalah tonggak sejarah munculnya psikologi
olahraga.
Bidang pendidikan juga tidak luput dari
dunia psikologi olahraga. Para psikolog olahraga banyak yang terjun
langsung memberi pelatihan-pelatihan atau kursus-kursus bagi pelatih dalam
konteks pemahaman terhadap manusia untuk diimplementasikan dalam proses
pencetakan para atlet.
Tidak hanya dalam konteks olahraga
prestasi, psikologi olahraga juga berperan pengembangan olahraga sebagai salah
satu sarana mencapai psychological well being atau untuk mencapai kesehatan
mental bagi masyarakat. Karena terbukti bahwa olahraga merupakan salah satu
sarana yang efektif untuk menghilangkan stress maupun depresi.
Bisa dikatakan bahwa saat ini dunia
olahraga profesional maupun amatir sudah sangat tergantung pada kehadiran
psikologi olahraga. Pengembangan cabang ilmu ini tentu akan memberi kontribusi
yang semakin besar pada peningkatan kualitas atlet maupun cabang olahraga itu
sendiri di masa depan.
Sayang memang, dunia
olahraga Indonesia belum begitu memperhatikan aspek mental dalam
pengembangan atlet. Peran psikolog olahraga di Indonesia pun baru
sebatas konsultan bagi tim maupun atlet. Bidang garap dan ruang lingkup lain
dari psikologi olahraga belum digarap dengan maksimal. Namun, semua harus
dilakukan dengan penuh optimisme bahwa psikologi olahraga diIndonesia akan
tumbuh berkembang dalam dunia olahraga Indonesia.
PERAN PENGETAHUAN PSIKOLOGI BAGI GURU
Para ahli psikologi dan pendidikan
pada umumnya berkeyakinan bahwa dua orang anak (yang kembar sekali pun) tak
pernah memiliki respon yang sama persis terhadap situasi belajar mengajar di
sekolah. Keduanya sangat mungkin berbeda dalam hal pembawaan, kematangan
jasmani, intelegensi, danketerampilanmotorik.
Pendidikan selain merupakan prosedur juga merupakan
lingkungan yang menjadi tempat terlibatnya individu yang saling berinteraksi.
Dalam interaksi antar individu ini baik antara guru dengan para siswa maupun
antara siswa dengan siswa lainnya terjadi proses dan peristiwa psikologis. Peristiwa
dan proses psikologis ini sangat perlu untuk dipahami dan dijadikan landasan
oleh para guru dalam memperlakukan para siswa secara tepat.
Para pendidik,
khususnya para guru sekolah, sangat diharapkan memiliki pengetahuan psikologi
pendidikan yang sangat memadai agar dapat mendidik para siswa melalui proses
belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik dan berhasil.
Pengetahuan psikologi pendidikan bagi para guru berperan sangat penting dalam
menyelenggarakan pendidikan di sekolah-sekolah. Hal ini disebabkan eratnya
hubungan psikologi khusus tersebut dengan pendidikan seerat metodik dengan
kegiatan pengajaran.
Pengetahuan yang bersifat psikologis mengenai peserta didik dalam proses
belajar dan proses belajar mengajar sesungguhnya tidak hanya diperlukan oleh
calon guru atau guru yang sedang bertugas dilembaga-lembaga pendidikan formal.
Para dosen di perguruan tinngi pun diharapkan mampu memiliki pengetahuan
psikologi pendidikan.
Seorang pengajar seyogyanya
harus memperhatikan:
- manajemen ruang belajar
- metodologi kelas
- motivasi peserta didik
- penanganan siswa yang berkemampuan luar biasa
- penanganan siswa yang berperilaku menyimpang
- pengukuran kinerja akademik siswa
- pendayagunaan umpan balik dan penindak lanjutan metode pengajaran.Hal-hal tersebut sangatlah penting untuk diterapkan agar tujuan pembelajaran dan pengajaran dapat berlangsung dengan baik. Jika pengajaran yang baik kepada peserta didik terlaksana maka kualitas pendidikan di Indonesia pun akan terdongkrak secara otomatis.
Psikologi Olahraga & Psikologi Latihan
Psikologi Olahraga & Psikologi Latihan Monty P.Satiadarma Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta Sekalipun Weinberg dan Gould (1995) memberikan pandangan yang hampir serupa atas psikologi olahraga dan psikologi latihan (exercise psychology), karena banyak kesamaan dalam pendekatannya, beberapa peneliti lain (Anshel, 1997; Seraganian, 1993; Willis & Campbell, 1992) secara lebih tegas membedakan psikologi olahraga dengan psikologi latihan. Weinberg dan Gould, (1995) mengemukakan bahwa psikologi olahraga dan psikologi latihan memiliki dua tujuan dasar: mempelajari bagaimana faktor psikologi mempengaruhi performance fisik individu memahami bagaimana partisipasi dalam olahraga dan latihan mempengaruhi perkembangan individu termasuk kesehatan dan kesejahteraan hidupnya Di samping itu, mereka mengemukakan bahwa psikologi olahraga secara spesifik diarahkan untuk: membantu para professional dalam membantu atlet bintang mencapai prestasi puncak membantu anak-anak, penderita cacat dan orang tua untuk bisa hidup lebih bugar meneliti faktor psikologis dalam kegiatan latihan dan memanfaatkan kegiatan latihan sebagai alat terapi, misalnya untuk terapi depressi (Weinberg & Gould, 1995).
Sekalipun belum begitu jelas letak perbedaannya, Weiberg dan Gould (1995)telah berupaya untuk menjelaskan bahwa psikologi olahraga tidak sama dengan psikologi latihan. Namun dalam prakteknya biasanya memang terjadi saling mengisi, dan kaitan keduanya demikian eratnya sehingga menjadi sulit untuk dipisahkan. Tetapi Seraganian (1993) serta Willis dan Campbell (1992) secara lebih tegas mengemukakan bahwa secara tradisional penelitian dan praktik psikologi olahraga diarahkan pada hubungan psikofisiologis misalnya responsi somatik mempengaruhi kognisi, emosi dan performance. Sedangkan psikologi latihan diarahkan pada aspek kognitif, situasional dan psikofisiologis yang mempengaruhi perilaku pelakunya, bukan mengkaji performance olahraga seorang atlet. Adapun topik dalam psikologi latihan misalnya mencakup dampak aktivitas fisik terhadap emosi pelaku serta kecenderungan (disposisi) psikologi, alasan untuk ikut serta atau menghentikan kegiatan latihan olahraga, perubahan pribadi sebagai dampak perbaikan kondisi tubuh atas hasil latihan olahraga dan lain sebagainya (Anshel, 1997). Jelaslah kini bahwa psikologi olahraga lebih diarahkan para kemampuan prestatif pelakunya yang bersifat kompetitif; artinya, pelaku olahraga, khususnya atlet, mengarahkan kegiatannya olahraganya untuk mencapai prestasi tertentu dalam berkompetisi, misalnya untuk menang. Sedangkan psikologi laithan lebih terarah pada upaya membahas masalah-masalah dampak aktivitas latihan olahraga terhadap kehidupan pribadi pelakunya.
Dengan kata lain, psikologi olahraga lebih terarah pada aspek sosial dengan keberadaan lawan tanding, sedangkan psikologi latihan lebih terarah pada aspek individual dalam upaya memperbaiki kesejahteraan psikofisik pelakunya. Sekalipun demikian, kedua bidang ini demikian sulit untuk dipisahkan, karena individu berada di dalam konteks sosial dan sosial terbentuk karena adanya individu-individu. Di samping itu kedua bidang ini melibatkan aspek psikofisik dengan aktivitas aktivitas yang serupa, dan mungkin hanya berbeda intensitasnya saja karena adanya faktor kompetisi dalam olahraga. Sejarah Psikologi Olahraga di Indonesia Jadi, di satu pihak seorang praktisi psikolog yang memiliki ijin praktik belum tentu memiliki cukup pengetahuan ilmu keolahragaan, di lain pihak, pakar keolahragaan tidak dibekali pendidikan khusus psikoterapi dan konseling.
Akibatnya, sampai saat ini masih terjadi kerancuan akan siapa sesungguhnya yang berhak memberikan pelayanan sosial dalam bidang psikologi olahraga. Idealnya adalah seorang konsultan atau psikoterapis memperoleh pelatihan khusus dalam bidang keolahragaan; sehingga sebagai seorang praktisi ia tetap berada di atas landasan professinya dengan mengikuti panduan etika yang berlaku, dan di samping itu pengetahuan keolahragaannya juga cukup mendukung latar belakang
pendidikan formalnya. Dalam upaya mengatasi masalah ini IPO sebagai asosiasi psikologi olahraga nasional tengah berupaya menyusun ketentuan tugas dan tanggung jawab anggotanya. Di samping itu, IPO juga tengah berupaya menyusun kurikulum tambahan untuk program sertifikasi bagi para psikolog praktisi yang ingin memberikan pelayanan sosial dalam bidang psikologi olahraga. Kurikulum tersebut merupakan bentuk spesialisasi psikologi olahraga yang meliputi: 1) Prinsip psikologi olahraga, 2) Peningkatan performance dalam olahraga, 3) Psikologi olahraga terapan, 4)
Psikologi senam. Masalah lain yang juga kerapkali timbul dalam penanganan aspek psikologi olahraga adalah dalam menentukan klien utama. Sebagai contoh misalnya pengguna jasa psikolog dapat seorang atlet, pelatih, atau pengurus.
Kepada siapa psikolog harus memberikan pelayanan utama jika terjadi kesenjangan misalnya antara atlet dan pengurus, padahal psikolog dipekerjakan oleh pengurus untuk menangani atlet, dan atlet pada saat tersebut adalah pengguna jasa psikologi. Di satu pihak psikolog perlu menjaga kerahasiaan atlet, di lain pihak pengurus mungkin mendesak psikolog untuk menjabarkan kepribadian atlet secara terbuka demi kepentingan organisasi. Sachs (1993) menawarkan berbagai kemungkinan seperti misalnya menerapkan perjanjian tertulis untuk memberikan keterangan; namun demikian, jika atlet mengetahui bahwa pribadinya akan dijadikan bahan pertimbangan organisasi, ia mungkin cenderung akan berperilaku defensif, sehingga upaya untuk memperoleh informasi tentang dirinya akan mengalami kegagalan.
Karenanya, seorang psikolog harus dapat bertindak secara bijaksana dalam menangani masalah ini, demikian pula, hendaknya seorang pelatih yang kerapkali bertindak selaku konsultan bagi atletnya kerap kali harus mampu melakukan pertimbangan untuk menghadapi masalah yang serupa. Atlet, Pelatih, & Lingkungan Atlet, pelatih dan lingkungan merupakan tiga aspek yang berkaitan satu sama lain dalam membicarakan psikologi olahraga dan psikologi senam. Istilah atlet tidak terbatas pada individu yang berprofesi sebagai olahragawan, tetapi juga mencakup individu secara umum yang melakukan kegiatan olahraga. Pelatih harus dibedakan dari sekedar instruktur, karena pelatih tidak hanya mengajarkan atlet bagaimana melakukan gerakan-gerakan olahraga tertentu, tetapi juga mendidik atlet untuk memberikan respon yang tepat dalam bertingkah laku di dalam dan di luar gelanggang olahraga. Lingkungan tidak terbatas pada lingkungan fisik semata-mata tetapi juga lingkungan sosial masyarakat, termasuk di dalamnya lingkungan kehidupan tempat atlet tinggal. Atlet, pelatih dan lingkungan adalah tiga aspek yang merupakan suatu kesatuan yang menentukan athletic performance.
Istilah atlethic performance agak sulit untuk diterjemahkan karena merupakan suatu istilah spesifik yang tidak bisa disamakan artinya dengan misalnya perilaku atletik. Atlet Seorang atlet adalah individu yang memiliki keunikan tersendiri. Ia memiliki bakat tersendiri, pola perilaku dan kepribadian tersendiri serta latar belakang kehidupan yang mempengaruhi secara spesifik pada dirinya. Sekalipun dalam beberapa cabang olahraga atlet harus melakukannya secara berkelompok atau beregu, pertimbangan bahwa seorang atlet sebagai individu yang unik perlu tetap dijadikan landasan pemikiran. Karena, misalnya di dalam olahraga beregu, kemampuan adaptif individu untuk melakukan kerjasama kelompok sangat menentukan perannya kelak di dalam kelompoknya.
Adalah sesuatui hal yang mustahil untuk menyamaratakan kemampuan atlet satu dengan lainnya, karena setiap individu memiliki bakat masing-masing. Bakat yang dimiliki atlet secara individual ini lah yang sesungguhnya layak untuk memperoleh perhatian secara khusus agar ia dapat memanfaatkan potensi-potensinya yang ada secara maksimum. Namun demikian, keunikan individu seorang atlet seringkali disalahartikan sebagai perilaku menyimpang (Anshel, 1997). Sebagai contoh petenis John McEnroe menggunakan perilaku marahnya untuk membangkitkan semangatnya. Namun bagi mereka yang tidak memahami hal ini menganggap McEnroe memiliki kecenderungan pemarah. Masalahnya adalah mungkin perilaku marahnya dapat mengganggu lawan tandingnya sehingga hal ini dirasakan sebagai sesuatu yang kurang sportif untuk menjatuhkan mental lawan tandingnya.
Demikian pula Monica Seles sering ditegur karena lenguhannya yang keras pada saat memukul bola, namun sesungguhnya hal ini merupakan keunikan perilakunya, dan karena tidak adanya aturan khusus untuk melarang hal tersebut, sebenarnya memang Seles tidak melakukan pelanggaran apapun. Adalah juga keliru menganggap bahwa setiap atlet membutuhkan masukan dari pelatihnya pada saat menjelang pertandingan. Karena ada atlet-atlet yang lebih cendeung memilih untuk berada sendiri daripada ditemani oleh orang lain.
Jadi, setiap atlet memiliki ciri khas masing-masing, dan tidak bisa dilakukan penyamarataan dalam melakukan pendekatan terhadap atlet. Hal-hal seperti inilah yang perlu difahami oleh para pembina dalam membina para atletnya. Karena justru keunikan merekalah yang membuat mereka mampu berprestasi puncak. Sedangkan mereka yang tergolong "normal" memang hanya memiliki prestasi normal-normal (biasa-biasa) saja. Pelatih Pelatih, seperti telah disinggung di atas, bukan sekedar instruktur olahraga yang memberitahukan atlet cara-cara untuk melakukan gerakan tertentu dala olahraga. Pelatih juga merupakan tokoh panutan, guru, pembimbing, pendidik, pemimpin, bahkan tak jarang menjadi tokoh model bagi atletnya. Pelatih sendiri juga mungkin meniru gaya pelatih lain atau pelatih senior yang melatih dirinya. Ada pepatah asing yang mengatakan "monkey see, monkey do", artinya apa yang dilihat, itulah yang dikerjakan.






1 Responses to “PSIKOLOGI OR”
Menangkan Jutaan Rupiah dan Dapatkan Jackpot Hingga Puluhan Juta Dengan Bermain di www(.)SmsQQ(.)com
18 January 2019 at 18:31Kelebihan dari Agen Judi Online SmsQQ :
-Situs Aman dan Terpercaya.
- Minimal Deposit Hanya Rp.10.000
- Proses Setor Dana & Tarik Dana Akan Diproses Dengan Cepat (Jika Tidak Ada Gangguan).
- Bonus Turnover 0.3%-0.5% (Disetiap Harinya)
- Bonus Refferal 20% (Seumur Hidup)
-Pelayanan Ramah dan Sopan.Customer Service Online 24 Jam.
- 4 Bank Lokal Tersedia : BCA-MANDIRI-BNI-BRI
8 Permainan Dalam 1 ID :
Poker - BandarQ - DominoQQ - Capsa Susun - AduQ - Sakong - Bandar Poker - Bandar66
Info Lebih Lanjut Hubungi Kami di :
BBM: 2AD05265
WA: +855968010699
Skype: smsqqcom@gmail.com
Post a Comment